Senin, 21 September 2015

Kumpulan Judul Karya Tulis Ilmiah Kesehatan Lingkungan


Hallo gaesssss apa kabar , udah lama nih gak ngeblog dan sekarang ane mau posting  macem-macem karya tulis ilmiah kesehatan lingkungan , ane tau susahnya buat KTI tanpa ada refrensi jadi ane mau sedikit berbagi apa yang ane punya , tapi ingat ini bukan buat di copy atau di samakan isinya 100 % setidaknya postingan ini bisa menjadi sedikit refrensi



Kumpulan Judul KTI

Tinjauan sanitasi Makanan dan Minuman di RS X
- Tinjauan Kualitas Mikrobiologis Pada Sumber Air Bersih di Desa X Kecamatan X  Kabupaten X
- Keadaan konstruksi Sumur Gali di Desa X Kecamatan X Kabupaten X-
Hubungan Pemakaian Obat Anti Nyamuk dan Kebiasaan Masyarakat Menggantung Pakaian Terhadap Penyakit DBD di Desa X
- Tinjauan Sistem Pembuangan tinja pada Desa X Kec .X
- Sistem Pengelolaan Sampah Pasar X kecamatan X Kabupaten X Tahun 20XX.





BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Perwujudan kualitas lingkungan yang sehat merupakan bagian pokok dibidang kesehatan. Udara sebagai komponen lingkungan yang penting kehidupan perlu dipelihara dan ditingkatkan kualitasnya sehingga dapat meningkatkan daya dukung untuk lingkungannya.Pencemaran atau polusi adalah suatu kondisi yang telah berubah dari bentuk asal pada keadaan yang lebih buruk. Suatu lingkungan hidup dikatakan tercemar apabila telah terjadi perubahan-perubahan dalam tatanan lingkungan itu sehingga tidak sama lagi dengan bentuk asalnya, sebagai akibat dari masuk dan atau dimasukkannya suatu zat atau benda asing kedalam tatanan lingkungan itu (Palar,2008).
Pencemaran udara dewasa ini semakin menampakan kondisi yang sangat memprihatinkan. Sumber pencemaran udara dapat berasal dari berbagai kegiatan antara lain industri, transportasi, perkantoran dan perumahan.
Berbagai kegiatan tersebut merupakan kontribusi terbesar dari pencemaran udara yang dibuang ke udara bebas. Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1999 yang berisikan jenis parameter udara pada baku mutu udara ambien yang berisikan antara lain : Sulfur dioksida (So2), karbon monoksida (CO), Nitrogen dioksida (NO2), Oksidan (O3), Hidro karbon (HC), PM 10, PM 2,5, TSP (debu), Dustfall (debu jatuh), Pb (Timah Hitam).
Timbal atau dalam keseharian lebih dikenal dengan nama timah hitam, dalam bahasa ilmiahnya dinamakan plumbum, dan logam ini disimbolkan dengan Pb (Palar, 2008).
Pajanan occupational di lingkungan kerja melalui saluran pernapasan dan saluran pencernaan terutama oleh Pb karbonat dan Pb Sulfat. Pb dan senyawanya masuk kedalam tubuh manusia melaui saluran pernapasan dan saluran pencernaan, sedangkan absorpsi melalui kulit sangat kecil sehingga dapat diabaikan, absorpsi Pb melalui pernapasan dipengaruhi oleh tiga proses yaitu deposisi, pembersihan mukosiliar dan pembersihan alveolar. Rata-rata 10-30%  Pb yang terinhalasi di absorpsi oleh paru-paru dan sekitar 5-10% dari yang tertelan diabsorpsi melalui saluran cerna, sedangkan sebanyak 30-40% Pb yang diabsorpsi melalui pernapasan akan masuk kedalam darah, masuknya Pb ke aliran darah tergantung pada ukuran partikel, daya larut, volume pernapasan dan variasi faal antar individu.
Pb yang di absorpsi diangkut oleh darah ke organ-organ tubuh sebanyak 95%, Pb dalam darah diikat oleh eritrosit. Sebagian Pb plasma dalam bentuk yang dapat berdifusi dan diperkirakan dalam pool Pb tubuh lainnya yang dibagi menjadi dua yaitu jaringan lunak (sumsum tulang, sistem saraf, ginjal, hati) dan ke jaringan keras (tulang, gigi, kuku, rambut).
Pajanan melalui saluran pernapasan dan saluran pencernaan terutama oleh Pb karbonat dan Pb sulfat, masukan Pb antara 100 hingga 350 µg/hari dan 20 µg/hari  dan diinhalasi melalui uap Pb dapat menimbulkan gangguan kesehatan.

Maka sejalan dengan lama dan tingkat pemaparan terhadap partikel Pb, maka dapat menimbulkan gangguan kesehatan. Salah satu tempat yang memungkinkan terjadinya pencemaran logam timbal (Pb) adalah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).
SPBU merupakan tempat umum karena merupakan suatu tempat dimana orang banyak atau masyarakat umum berkumpul  untuk melakukan kegiatan baik secara sementara (insidentil) maupun secara terus menerus (permanent).
Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) adalah tempat di mana kendaraan bermotor bisa memperoleh bahan bakar minyak.Di Indonesia,Stasiun Pengisian Bahan Bakar dengan nama SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum).Di SPBU konsumen tidak hanya bisa mendapatkan bahan bakar minyak saja namun juga bisa memanfaatkan sarana dan fasilitas yang disediakan.
SPBU merupakan tempat pengisian bahan bakar umum yang memungkinkan terjadinya pencemaran Timbal (Pb) yang berasal dari bensin. Timbal yang berada di sekitar SPBUdapat menyebabkan pencemaran udara sehingga dapat mempengaruhi tingkat kesehatan orang-orang yang berada di sekitar SPBU terutama para pekerjanya.
Di kabupaten Pringsewu terdapat 4 buah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yakni : 1 buah di Kecamatan Pringsewu Barat dengan jumlah total pekerja sebanyak 26 orang, 1 buah di Kecamatan Sukoharjo dengan jumlah total pekerja sebanyak 21 orang, 1 buah di Desa Tambah Rejo Kecamatan Gadingrejo dengan jumlah total pekerja sebanyak 23 orang, 1 buah di Kecmatan Pardasuka dengan jumlah total pekerja sebanyak 27 orang.
Berdasarkan wawancara awal yang dilakukan kepada petugas Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum berkaitan dengan pemeriksaan kandungan logam timbal (Pb) dalam urine petugas pengisian di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) belum pernah dilakukan oleh pihak Pertamina maupun, pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Pringsewu. Sedangkan menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1406/ MENKES/ SK/ XI/ 2002 tentang standar pemeriksaan kadar timah hitam pada spesimen biomarker manusia kadar timbal (Pb) yang diperbolehkan dalam urine adalah sebanyak 150 µg Pb/100 ml cretinine.
Hal tersebut mendorong penulis untuk meneliti lebih lanjut untuk mengetahui berapa tingkat kadar logam timbal (Pb) yang terkandung dalam urine petugas pengisian yang ada di  Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di kabupaten Pringsewu. Dalam penelitian yang berjudul Pemeriksaan Kadar Timbal (Pb) pada Urine Petugas Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) se-Kabupaten Pringsewu tahun 2015.
B.     Rumusan Masalah
Paparan Pb dengan dosis rendah secara terus-menerus yang berlangsung lama akan  berdampak terhadap gangguan kesehatan, diperkirakan dalam jangka waktu tertentu para petugas pengisian bahan bakar di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) akan mengalami gangguan kesehatan akibat paparan Pb. Hal ini dikarenakan konsumsi bensin di Indonesia sebesar 95,46% adalah bensin yang mengandung Pb, dengan demikian potensi paparan Pb di lingkungan kerja petugas pengisian bahan bakar akan semakin meningkat.
Berdasarkan wawancara awal yang dilakukan kepada petugas Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di kabupaten Pringsewu berkaitan dengan pemeriksaaan kandungan logam timbal (Pb) dalam urine petugas Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) belum pernah dilakukan pemeriksaan kadar timbal (Pb) dalam urine petugas SPBU oleh pihak Pertamina maupun pihak Dinas Kesehatan kabupaten Pringsewu.
Berdasarkan uraian latar belakang yang telah dipaparkan, peneliti ingin mengetahui tentang “Kadar Timbal (Pb) Dalam Urine Petugas Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kabupaten Pringsewu”
C.    Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui kadar Timbal (Pb) yang terdapat di dalam urine petugas pengisian Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kabupaten Pringsewu.
D.    Manfaat Penelitian
1.    Memberikan informasi tentang bahaya dari logam timbal (Pb) yang terkandung dalam urine petugas Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di kabupaten Pringsewu.
2.    Menambah pengetahuan penulis dan pembaca tentang bahaya logam timbal (Pb) yang terdapat dalam tubuh manusia.
3.    Dapat menjadi informasi dan pengetahuan untuk penelitian lebih lanjut.
E.     Ruang Lingkup Penelitian
Dalam penelitian ini penulis membahas mengenai kajian studi analisis pemeriksaan kadar timbal (Pb) dalam urine petugas Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kabupaten Pringsewu .
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.      Pencemaran Lingkungan
Pencemaran menurut UU No. 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup adalah masuknya atau dimasukannya makhluk hidup, zat, energi atau komponen lain kedalam lingkungan dan atau berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam, sehingga kualitas lingkungan turun sampai ketingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya (UU No 32, 2009).
Suatu lingkungan dikatakan tercemar apabila telah terjadi perubahan-perubahan dalam tatanan lingkungan itu sehingga tidak sama lagi dengan bentuk asalnya, sebagai akibat dari masuknya dan atau dimasukkannya suatu zat atau benda asing kedalam tatanan lingkungan itu. Perubahan yang terjadi sebagai akibat dari masuknya benda asing itu, memberikan dampak buruk terhadap organisme yang sudah ada dan hidup dengan baik dalam tatanan lingkungan tersebut. Sehingga lingkungan tersebut telah tercemar dalam tingkatan yang tinggi, dapat membunuh dan bahkan menghapuskan satu atau lebih jenis organisme yang tadinya hidup normal dalam tatanan lingkungan itu. Jadi pencemaran lingkungan merupakan suatu perubahan dalam suatu tatanan lingkungan asli menjadi suatu tatanan lingkungan baru yang lebih buruk dari tatanan aslinya. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pencemaran suatu tatanan lingkungan hidup disebabkan oleh banyak hal, namunyang palingutama dari semakin banyak penyebab tercemarnya suatu tatanan lingkungan adalah limbah gas, padat dan cair (Palar, 2008).
B.       Pencemaran Udara
Pencemaran udara di artikan sebagai hadirnya satu atau beberapa kontaminan di dalam udara (atmosfer) seperti debu, busa, gas kabut, bau-bauan, asap atau uap dalam kuantitas tertentu yang dapat menimbulkan gangguan –gangguan terhadap kehidupan manusia, tumbuh-tumbuhan atau hewan maupun benda-benda, sehingga mempengaruhi kehidupan organisme maupun benda.
Bahan pencemaran udara dapat dikelompokkan berdasarkan jenisnya sebagai berikut :
1.      Partikel
Yaitu semua bahan pencemar di udara yang berupa debu padat, ataupun titik air. Adapun sumbernya antara lain pertambangan terbuka, aktifitas manusia, aktifitas gunung berapi dan lain-lain.
2.      Senyawa Kimia
Yaitu semua bahan pencemar di udara yang merupakan senyawa kimia baik organik maupun anorganik. Bahan pencemar ini umumnya berasal dari aktifitas manusia seperti proses-proses kimia pabrik, pembakaran bahan bakar, asap rokok dan sebagainya.Terdapat 2 jenis zat pencemar :
a.    Zat pencemar primer, yaitu zat kimia yang langsung mengkontaminasi udara dalam konsentrasi yang membahayakan. Zat tersebut berasal dari komponen udara alamiah seperti karbondioksida, yang meningkat di atas konsentrasi normal, atau sesuatu yang tak biasa ditemukan dalam udara misalnya timbal.
b.    Zat pencemar sekunder, yaitu zat kimia berbahaya yang terbentuk di atmosfer melalui reaksi kimia antar komponen-komponen di udara.
C.    Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU)
Stasiun pengisian bahan bakar minyak (BBM) untuk umum adalah setiap tempat untuk melayani pembelian BBM yang terdiri dari Stasiun Pengisian Bahan Bakar untuk Umum (SPBU),Premium Solar Packed Dealer (PSPD),Agen Premium dan Minyak Solar (APMS),Stasiun Pengisian Bahan Bakar Bunker (SPBB),Stasiun Pengisian Bahan Bakar Industri (SPBI),Stasiun Pengisian Bahan Bakar untuk Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (SPBT/P) dan Bunkerservice PT.Pertamina (Persero).
Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) adalah tempat dimana kendaraan bermotor bisa memperoleh bahan bakar.
Banyak Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang juga menyediakan layanan tambahan.Misalnya,musholla,pompa angin,toilet dan lain sebagainya.Stasiun Pengisian Bahan Bakar Modern,biasanya dilengkapi dengan minimarket, tidak heran apabila SPBU juga menjadi tempat istirahat (http://id.wikipedia.org/wiki/Stasiun_pengisian_bahan_bakar).
            SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) merupakan prasarana umum yang disediakan oleh PT.Pertamina untuk masyarakat luas guna memenuhi kebutuhan bahan bakar.Pada umumnya SPBU menjual bahan bakar sejenis premium,solar,pertamax dan pertamax plus. Adapun program PT. Pertamina dalam kegiatan SPBU adalah sebagai berikut:


1.      Pertamina Way
Pertamina Way adalah program yang diluncurkan oleh PT.Pertamina dengan penerapan standar pelayanan yang terdiri dari 5 (lima) elemen,yaitu pelayanan staff yang terlatih dan termotivasi,jaminan kualitas dan kuantitas,fasilitas dan peralatan yang terawat dengan baik,memiliki format fisik yang konsisten,dan penawaran produk dan pelayanan bernilai tambah dengan operator yang selalu menerapkan 3 S (Senyum,Salam,Sapa).
2.      Pasti Pas
Pasti Pas adalah SPBU yang telah mendapatkan sertifikat Pasti Pas! Dari auditor independen dengan jaminan pelayanan terbaik yang memenuhi standar kelas dunia.Konsumen akan mendapatkan kualitas dan kuantitas BBM yang terjamin,pelayanan yang ramah,serta fasilitas yang nyaman.
D.    Timah Hitam (Plumbum Pb)
Keterlibatan aktivitas manusia terutama dalam proses indrustrialisasi di abad 19 dan 20 telah mengakibatkan pencemaran lingkungan. Penggunaan logam Pb dalam industri menghasilkan polutan yang bersifat merugikan kehidupan biologis. Sumber utama polisi Pb pada lingkungan berasal dari proses pertambangan, peleburan dan pemurnian logam tersebut, hasil limbah industri, dan asap kendaraan bermotor.
1.      Sifat Fisik dan Kimiawi Pb
Timbal yang kita kenal sehari-hari dengan timah hitam dan dalam bahasa ilmiahnya dikenal dengan nama plumbum dan kelompok logam-logam golongan IV – A pada tabel periodik unsur kimia. Mempunyai nomor atom (NA) 82 dengan bobot atau berat (BA) 207,2 adalah suatu logam berat berwarna kebiru-biruan dan lunak dengan titik leleh 327 C dan titik didih  1.620 C. Pada suhu 550 – 660 C. Pb mebguap dan membentuk oksigen dalam udara yang kemudian timbal oksida. Bentuk oksida yang paling umum adalah timbal (II). Walaupun bersifat lenuk dan lentur, Pb sangat rapuh dan mengkerut pada pendinginan, sulit larut dalam air dingin, air panas dan air asam timah hitam dapat larut dalam asam nitrit, asam asetat dan asam sulfat pekat.
2.      Bentuk Persenyawaan Pb dan Kegunaan Timah Hitam (Pb)
Pb yang merupakan hasil samping dari pembakaran ini berasal senyawa tetraetil-Pb yang selalu ditambahkan ke dalam bahan bakar kendaraan bermotor dan berfungsi sebagai anti ketuk (anti – Knock) pada mesin – mesin kendaraan. Pb juga sebagai zat peningkat oktan dalam produksi gasoline dengan pertimbangan bahwa Pb memiliki kepekaan yang tinggi dalam meningkatkan angka oktan,dimana setiap tambahan 0,1 gram timbal dalam 1 liter gasoline mempu menaikan angka oktan dengan 1,5 – 2 satuan angka oktan, selain itu kegunaan Pb dapat dilihat pada Tabel 1.1:









Tabel 1.1
Bentuk Persenyawaan Pb dan Kegunaannya
Bentuk Persenyawaan
Kegunaan
Pb + Sb
Kabel telepon
Pb + As+ Sn + Bi
Kebel listrik
Pb + Ni
Senyawa azida untuk bahan peledak
Pb + Cr + Mo + CI
Untuk pewarnaan pada cat
Pb – Asetat
Pengkilapan keramik dan bahan anti api
Pb + Te
Pembangkit listrik tenaga panas
Tetranetil – Pb & Tetraetil – Pb
Additive untuk bahan bakar kendaraan
(Palar,2008)
3.      Pb pada Bahan Bakar
Timah hitam ditambahkan pada bahan bakar kendaraan bermotor dalam bentuk senyawa organik tetraalkylead, terdiri dari tetramethyllead (TML), tetraethylead (TEL), dan campuran alkil Triethylmethylead, diethylmehyllead dan ethyltrimethyllead. Tidak ada timah hitam yang ditambahkan pada bahan bakar solar (diesel) dan minyak tanah. TEL dan TML secara bersama-sama ditambahkan kedalam bensin sebagai adiktif anti ketukan mesin dan menaikkan angka oktan bensin. TEL berbentuk cairan berat dengan kerapatan 1,659 g/ml, titik didih 200 C = 390 F dan larut dalam bensin.
Metil klorida (CH3CI) dan etil klorida (C2H5CI) merupakan bahan utama pembuatan senyawa TEL, dengan reaksi pembentukan sebagai berikut :
4CH3 + CI- + 4Na+Pb-     →4Na + CI- +3Pb- + (CH3)4 + Pb-
      Methil Klorida                       Tetra metil lead (TML)
4C2H5 + CI- + 4Na + Pb-      →        4Na + CI- + 3 Pb+ + (C2H5)4 + Pb+
     Etil klorida                                          Tetra etil lead ( TEL)
4.      Kandungan Senyawa Pb Dalam Gas Buangan Kendaraan Bermotor
Emisi Pb ke dalam lapisan atsmofir dapat berbentuk gas dan partikulat. Emisi Pb yang masuk dalam bentuk gas, terutama sekali berasal dari buangan gas kendaraan bermotor. Emisi tersebut merupakan hasil samping dari pembakaran yang terjadi dalam mesin-mesin kendaraan. Pb yang merupakan hasil samping dari pembakaran ini berasal dari senyawa tetrametl-Pb dan tetraetil-Pb yang selalu ditambahkan dalam bahan bakar kendaraan bermotor dan berfungsi sebagai anti ketuk (anti-knock) dan penambah oktan pada mesin-mesin kendaraan. Disamping itu, dalam bahan bakar kendaraan bermotor biasaanya ditambahkan pula bahan scavenger, yaitu etilendibromida (C2H4Br2) dan etilendikhlorida (C2H4C12). Senyawa ini dapat mengikat residu Pb yang dihasilkan setelah pembakaran, sehingga didalam gas buangan terdapat senyawa Pb dengan halogen.
Bahan adiktif yang biasa dimasukkan ke dalam bahan bakar kendaraan  bermotor pada umumnya terdiri dari 62% tetraetil-Pb, 18% etilendikhlorida, 18% etilendibromida dan sekitar 2% campuran tambahan dari bahan-bahan yang lain. Jumlah senyawa Pb yang jauh lebih besar dibandingkan dengan senyawa-senyawa lain dan tidak musnahnya Pb dalam peristiwa pembakaran pada mesin menyebabkan jumlah Pb yang dibuang ke udara melalui asap buangan kendaraan menjadi sangat tinggi. Berdasarkan pada analisis yang pernah dilakukan, dapat diketahui kandungan bermacam-macam senyawa Pb yang ada dalam asap kendaraan bermotor, kandungan senyawa Pb dalam gas buangan kendaraan bermotor dapat dilihat pada Tabel 1.2:
Tabel 1.2
Kandungan Senyawa Pb Dalam Gas Buangan Kendaraan Bermotor
Senyawa Pb (%)
0 jam
18 jam
PbBrCI
32,0
12,0
PbBrCI.2PbO
31,4
1,6
PbCI2
10,7
8,3
Pb(OH)CI
7,7
7,2
PbBr2
5,5
0,5
PbCI2.2PbO
5,2
5,6
Pb(OH)Br
2,2
0,1
PbOx
2,2
21,2
PbCO3
1,2
13,8
PbBr2.2PbO
1,1
0,1
PbCO3.2PbO
1,0
29,6
(Palar,2008)

5.      Pb Pada Udara
Jumlah Pb di udara mengalami peningkatan yang sangat drastis sejak dimulainya revolusi industri di Benua Eropa. Asap yang berasal dari cerobong pabrik sampai pada knalpot kendaraan telah melepaskan Pb ke udara. Hal ini berlangsung terus-menerus sepanjang hari, sehingga kandungan Pb di udara naik secara sangat mencolok sekali. Kenyataan ini secara dramatis dibuktikan dengan suatu hasil penelitian terhadap kandungan Pb yang terdapat pada lapisan es di Greenland pada tahun 1969. Arus angin ternyata telah menerbangkan debu-debu dan partikulat-partikulat yang mengandung logam Pb ke daerah kutub. Debu dan partikulat tersebut menumpuk pada lapisan atmosfer di kutub, dan kemudiaan dibawa turun oleh salju untuk selanjutnya membentuk lapisan es. Sampel-sampel yang diambil pada kedalaman tertentu pada lapisan es di Greenland, dimana setiap lapisan es mewakili umur sampel yang juga berarti umur endapan logam Pb pada daerah tersebut. Dari penelitian ini diketahui bahwa kandungan Pb mulai mengalami peningkatan setelah revolusi indsutri,yaitu sekitar abad ke-18. (Palar,2008)
6.      Pb Dalam Air dan Makanan
Pb (timah hitam/timbal) dan persenyawaanya dapat berada didalam badan perairan secara alamiah dan sebagai dampak dari aktivitas manusia. Secara alamiah, Pb dapat masuk ke badan perairan melalui pengkristalan Pb di udara dengan bantuan air hujan. Di samping itu, proses kerosifikasi dari batuan mineral akibat hempasan gelombang dan angin, juga merupakan salah satu sumber Pb yang akan masuk ke dalam badan perairan. Dan sebagai dampak dari aktivitas manusia, Pb masuk kedalam perairan dalam bermacam bentuk. Diantaranya adalah air buangan (limbah) dari industri yang berkaitan dengan Pb, air dari pertambangan biji timah hitam dan buangan sisa industri baterai.
Selain kontaminasi Pb pada air, juga ditemukan kontaminasi Pb pada makanan olahan atau makanan kaleng. Makanan yang telah diasamkan dapat melarutkan Pb dari wadah atau alat-alat pengolahannya
 (Palar, 2008).
7.      Metabolisme Logam Timbal Pb
Metabolisme biotranformasi dan bahan-bahan beracun merupakan faktor penentu utama terhadap daya racun zat terkait. Melalui proses ini bahan-bahan beracun masuk kedalam tubuh akan mengalami peningkatan racunnya atau akan mengalami penurunan dari daya racun yang dimilikinya, karena dalam persitiwa ini setiap zat atau mineral yang masuk akan diolah dan diubah menjadi bentuk-bentuk yang lebih sederhana atau persenyawaan sederhana. Dari pada itu, proses perubahan bentuk merupakan rangkaian peristiwa kimiawi. Suatu bahan beracun dapat saja berkaitan dengan behan beracun lainnya yang akan meningkatkan daya racunnya yang sudah ada atau sebaliknya, ikatan tersebut akan menurunkan atau menetralkan daya racun yang semula ada (Palar,2008).
Timbal merupakan logam yang bersifat toksik terhadap manusia, yang bisa berasal dari tindakan mengkonsumsi makanan, minuman, atau inhalasi dari udara , debu yang tercemar Pb, kontak dengan kulit, kontak dengan mata, dan lewat parental. Logam Pb tidak dibutuhkan oleh tubuh manusia  sehingga bila makanan dan minuman tercemar Pb dikonsumsi, maka tubuh akan mengeluarkannya. Orang dewasa mengarsobsi Pb sebesar 5-15% dari keseluruhan yang dicerna, sedangkan anak-anak mengarsobsi Pb lebih besar,  yaitu 41,5%.
Logam timbal (Pb) dapat masuk dalam tubuh manusia, salah satunya melalui inhalasi pernapasan saat menghirup udara yang tercemar logam Pb. Di dalam tubuh manusia, Pb bisa menghambat aktivitas enzim yang terlibat dalam pembentukan hemoglobin (Hb) dan sebagian kecil di ekskresikan lewat urine atau fase karena sebagian terikat oleh protein, sedangkan sebagian lagi terakumulasi dalam ginjal, hati, kuku, jaringan lemak, dan rambut. Waktu paruh timbal dalam eritrosit adalah selama 35 hari, dalam jaringan ginjal dan hati adalah 40 hari, sedangkan waktu paruh dalam tulang adalah adalah 30 hari. Tingkat ekskresi Pb melalui sistem urinaria sebesar 76%, gastrointestinal 16% dan rambut, kuku, serta keringat sebesar 8% (Klaassen, 1986).
Keracunan akibat kontaminasi logam Pb bisa menimbulkan berbagai macam hal, seperti meningkatnya kadar ALAD (Amino Levulinic Acid Dehidratase) dalam darah dan urin, meningkatnya kadar protoporphin dalam sel darah merah, memperpendek sel darah merah, menurunkan jumlah sel darah merah dan sel-sel darah merah yang masih muda (retikulosit), serta meningkatkan kandungan logam Fe dalam plasma darah. Timbal (Pb) juga dapat mengakibatkan menurunnya kemampuan belajar, dan membuat anak-anak bersifat hiperaktif. Selain itu, mempengaruhi organ-organ tubuh, antara lain sistem saraf, ginjal, sistem reproduksi, sistem endokrin dan jantung, serta gangguan pada otak sehingga anak mengalami gangguan kecerdasan dan mental.
Kandungan Pb dalam darah berkolerasi dengan tingkat kecerdasan manusia. Semakin tinggi kadar Pb dalam darah, semakin rendah poin IQ. Apabila dalam darah ditemukan kadar Pb sebanyak tiga kali batas normal (intake normal sekitar 0,3 mg/hari), maka akan terjadi penurunan kecerdasan intelektual (IQ) dibawah 80. Kelainan fungsi otak terjadi karena Pb secara kompetitif menggantikan peranan Zn, Cu, dan Fe dalam mengatur fungsi sistem saraf pusat. Timbal Pb merupakan neurotoksin yang bersifat akumulatif. Setiap kenaikan kadar Pb dalam darah sebesar 10 mg/dl menyebabkan penurunan IQ sebanyak 2,5 poin (Widowati,2008).
8.      Toksisitas Logam Timbal (Pb)
Pajanan timbal dalam jumlah kecil tetapi dalam jangka waktu yang lama akan terjadi akumulasi, sehingga dapat menyebabkan keracunan. Gejala keracunan kronis ringan berupa insomnia, sedangkan gejala keracunan timbal aku ringan adalah menurunnya tekanan darah dan berat badan. Keracunan akut yang cukup berat dapat mengakibatkan koma bahkan kematian (Palar, 2008).


a.    Efek logam timbal (Pb) Terhadap Ginjal
Senyawa-senyawa timbal (Pb) yang terlarut dalam darah akan dibawa oleh darah keseluruh sistem tubuh. Pada peredarannya, darah akan masuk ke glomerolus yang merupakan dari ginjal. Senyawa Pb yang terlarut dalam darah ke sistem urinaria (ginjal) dapat mengakibatkan terjadinya kerusakan pada saluran ginjal. Kerusakan yang terjadi tersebut disebabkan terbentuknya  intranuclear inclusion bodies yang disertai dengan membentuk aminocliduria (kelebihan asam amino dalam urine) (Palar,2008).
b.    Efek logam timbal (Pb) Terhadap Jantung
Organ lain dapat diserang oleh racun yang dibawa oleh logam Pb adalah jantung. Namun sejauh ini perubahan dalam otot jantung sebagai akibat dari keracunan logam Pb baru ditemukan pada anak-anak.
c.    Efek logam timbal (Pb) Terhadap Sistem Saraf
Sistem saraf merupakan sistem yang paling sensitif terhadap daya racun yang dibawa oleh logam Pb. Pengaruh dari keracunan logam Pb dapat menimbulkan kerusakkan otak. Penyakit-penyakit sebagai akibat dari keracunan logam Pb adalah epilepsi, halusinasi, kerusakan pada otak besar, dan delirium (sejenis penyakit gula).




d.   Efek logam timbal (Pb) Terhadap Sistem Reproduksi
Daya racun yang dimiliki timbal juga mempengaruhi sistem reproduksi. Timbal (Pb) dapat mengakibatkan kemandulan, aborsi, dan kematian neonatal. Janin yang belum lahir peka terhadap toksisitas logam Pb, janin yang berada dalam kandungan mengalami penurunan dalam ukuran, hambatan pada pertumbuhan dalam rahim induk dan setelah dilahirkan (Palar, 2008).
9.      Tingkat Pb Normal Dalam Tubuh
Untuk dapat melakukan evaluasi terhadap keterpaparan oleh logam Pb, perlu diketahui batas normal dan konsntrasi kandungan Pb dalam jaringan-jaringan dan cairan tubuh. Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan di Amerika Serikat, disimpulkan bahwa pemasukan Pb sehari-hari kedalam tubuh dan digolongkan pada tingkat keterpaparan normal adalah dalam kisaran 330 µg/hari, dengan tingkatan variasi antara 100 µg sampai dengan 200 µg. Penelitian terhadap sekelompok laki-laki yang tinggal di Philadelphia, Amerika Serikat, menunjukan bahwa kadar Pb dalam urine mereka berkisar antara 20 µg sampai 37 µg. Sedangkan kandungan Pb dalam darah orang dewasa pada beberapa tempat (masih di Amerika Serikat), menunjukan adanya perbedaan. Perbedaan kandungan Pb dalam darah tersebut lebih disebabkan oleh faktor lingkungan dan geografis dimana orang-orang itu berada. Adapun ketentuan Pb dalam tubuh dapat dilihat pada Tabel 1.3 dan Tabel 1.4:
Tabel 1.3
Empat Kategori Pb Dalam Darah Orang Dewasa
Kategori
µg Pb/100 ml Darah
Deskripsi
A (normal)
< 40
Tidak terkena paparan atau tingkat paparan normal
B (dapat di toleransi)
40 - 80
Pertambahan penyerapan dari keadaan terpapaar tetapi masih bisa di toleransi
C (berlebih)
80 - 120
Kenaikan Penyerapan dari keterpaparan yang banyak dan mulai memperlihatkan tanda-tanda keracunan
D (tingkat bahaya)
> 120
Penyerapan mencapai tingkat bahaya dengan tanda-tanda keracunan ringan sampai berat
(Palar,2008)
Dari tabel tersebut dapat diketahui bahwa bila manusia terpapar oleh pb dalam normal atau batasan toleransi, maka daya racun yang dimiliki oleh Pb tetap akan bekerja dan bila jumlah yang diserap telah mencapai ambang atau bahkan melebihi batas ambang maka individu yang terpapar akan memperlihatkan gejala keracunan Pb yang lebih banyak menyerang bagian tubuh.






Tabel 1.4
Batas Maksimum Pb dalam Darah dan Urine dibandingkan dengan Biological Exposure Index (BEI)
Konsentrasi
Batas Maksimum
Ket.

Darah
50 µg Pb/100 ml Darah
Kepmenkes No.1406/MENKES/
SK/XI/2202

Urine
150 µg Pb/100 ml cretinine



Menurut Kepmenkes No.1406/MENKES/SK/XI/2202 Tentang Pemeriksaan Kadar Timah Hitam pada  Spesimen Biomarker Manusia.
Tabel 1.5
Kadar Pb Dalam 9 Jaringan TubuhOrang-orang
Tidak Terpapar oleh Pb
Jaringan
Mg Pb/100 gr Jaringan Basah
Tulang
0,67 – 3,59
Hati
0,04 – 0,28
Paru-paru
0,03 – 0,09
Ginjal
0,05 – 0,16
Limpa
0,01 – 0,07
Jantung
0,04
Otak
0,01 – 0,09
Gigi
0,28 – 31,4
Rambut
0,007 – 1,17
Kenyataannya, umur dan jenis kelamin turut mempengaruhi kandungan Pb dalam jaringan tubuh seseorang. Semakin tua umur seseorang, akan semakin tinggi pula konsentrasi Pb yang terakumulasi pada jaringan tubuhnya. Jenis jaringan juga turut mempengaruhi kadar Pb yang terkandung. Bahwa dalam jaringan otak, kadar Pb yang ada tidak sama dengan kadar Pb yang terdapat dalam paru-paru ataupun ginjal.
Pada laki-laki yang berumur antara 21-30 tahun akan ditemukan 0,055 mg/100 gr Pb dalam jaringan otak, sedangkan pada laki-laki yang berumur antara 51-60 tahun, jumlah kandungan Pb dalam jaringan otaknya adalah 0,064 mg/100gr. Sementara itu pada kaum wanita kadar Pb dalam jaringan otaknya lebih kecil bila dibandingkan dengan laki-laki, yaitu sekitar 0,046 sampai 0,051 mg/100 gr. Dalam paru-paru wanita, kadar Pb yang ada biasanya adalah sekitar 55% dari kadar Pb yang ada dalam paru-paru laki-laki.
Dalam ginjal, batas tertinggi kandungan Pb adalah sekitar 0,075 mg/100 gr. Angka tersebut diperoleh berdasarkan hasil otopsi terhadap individu dengan variasi umur antara 53 – 65 tahun. Otopsi tersebut dilakukan di Veteran Administration Hospital, Birmingham, Alabama ( Palar,2008).




10.  Metode Spektrofotometri
Spektrofotometri merupakan suatu metoda analisa yang didasarkan pada pengukuran serapan  sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan berwarna pada panjang gelombamg spesifik dengan menggunakan monokromator prisma atau kisi difraksi dengan detektor fototube.
Spektrofotometer adalah alat untuk mengukur transmitan atau absorban suatu sampel sebagai fungsi panjang gelombang. Sedangkan pengukuran menggunakan spektrofotometer ini, metoda yang digunakan sering disebut dengan spektrofotometri (Basset,1994).
Spektrofotometri dapat dianggap sebagai perluasan suatu pemeriksaan visual dengan studi yang lebih mendalam dari absorbsi energi.Absorbsi radiasi oleh suatu sampel diukur pada berbagai panjang gelombangdan dialirkan oleh suatu perkam untuk menghasilkan spektrum tertentu yang khas untuk komponen yang berbeda (Khopkar, 2003).
Absorbsi sinar oleh larutan mengikuti hukum Lambert-Beer, yaitu :
A =     log ( Io / It )         =  a b c

Keterangan  : Io = Intensitas sinar datang
It = Intensitas sinar yang diteruskan
a = Absorptivitas
b = Panjang sel/kuvet
c = konsentrasi (g/l)
A = Absorban

Spektrofotometri merupakan bagian dari fotometri dan dapat dibedakan dari filter fotometri sebagai berikut :
a.       Daerah jangkauan spectrum
Filter fotometr hanya dapat digunakan untuk mengukur serapan sinar tampak (400-750 nm). Sedangkan spektrofotometer dapat mengukur serapan di daerah tampak, UV (200-380 nm) maupun IR (> 750 nm).
b.      Sumber sinar
Sesuai dengan daerah jangkauan spektrumnya maka spektrofotometer menggunakan sumber sinar yang berbeda pada masing-masing daerah (sinar tampak, UV, IR). Sedangkan sumber sinar filter fotometer hanya untuk daerah tampak.
c.       Monokromator
Filter fotometere menggunakan filter sebagai monokromator. Tetapi pada spektro digunakan kisi atau prisma yang daya resolusinya lebih baik.
d.      Detektor
-   Filter fotometer menggunakan detektor fotosel
-  Spektrofotometer menggunakan tabung penggandaan foton atau fototube.

Gambar 1.6
PadaGambar 1.6menjelaskan komponen-komponen sebuah Spektrofotometer. Komponen yang terdapat pada Spektrofotometer, yaitu:
Komponen utama Spektrofotometer :
a.       Sumber cahaya
Untuk daerah UV dan daerah tampak :
-          Lampu wolfram (lampu pijar) menghasilkan spektrum kontiniu pada gelombang 320-2500 nm.
-          Lampu hidrogen atau deutrium (160-375 nm)
-          Lampu gas xenon (250-600 nm)
Untuk daerah IR ada tiga macam sumber sinar yang dapat digunakan :
-          Lampu Nerst,dibuat dari campuran zirkonium oxida (38%) Itrium oxida  (38%) dan erbiumoxida (3%)
-          Lampu globar dibuat dari silisium Carbida (SiC).
-          Lampu Nkrom terdiri dari pita nikel krom dengan panjang gelombang 0,4 – 20 nm
-          Spektrum radiasi garis UV atau tampak :
-          Lampu uap (lampu Natrium, Lampu Raksa)
-          Lampu katoda cekung/lampu katoda berongga
-          Lampu pembawa muatan dan elektroda (elektrodeless dhischarge lamp)
-          Laser
b.      Pengatur Intensitas
Berfungsi untuk mengatur intensitas sinar yang dihasilkan oleh sumber cahaya agar sinar yang masuk tetap konstan.
c.       Monokromator
Berfungsi untuk merubah sinar polikromatis menjadi sinar monokromatis sesuai yang dibutuhkan oleh pengukuran
Macam-macam monokromator :
-          Prisma
-          kaca untuk daerah sinar tampak
-          kuarsa untuk daerah UV
-          Rock salt (kristal garam) untuk daerah IR
-          Kisi difraksi
Keuntungan menggunakan kisi :
-          Dispersi sinar merata
-          Dispersi lebih baik dengan ukuran pendispersi yang sama
-          Dapat digunakan dalam seluruh jangkauan spektrum
d.      Kuvet
Pada pengukuran di daerah sinar tampak digunakan kuvet kaca dan daerah UV digunakan kuvet kuarsa serta kristal garam untuk daerah IR.
e.       Detektor
Fungsinya untuk merubah sinar menjadi energi listrik yang sebanding dengan besaran yang dapat diukur.
Syarat-syarat ideal sebuah detektor :
-          Kepekan yang tinggi
-          Perbandingan isyarat atau signal dengan bising tinggi
-          Respon konstan pada berbagai panjang gelombang.
-          Waktu respon cepat dan signal minimum tanpa radiasi.
Macam-macam detektor : Detektor foto (Photo detector), Photocell, Phototube, Hantaran foto, Dioda foto,dan Detektor panas.
f.       Penguat (amplifier)
Berfungsi untuk memperbesar arus yang dihasilkan oleh detektor agar dapat dibaca oleh indikator

E.     Standar Pemeriksaan Kadar Timah Hitam
1.    Umum
Untuk menentukan pengambilan spesimen biomarker hendaknya diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a.       Untuk keperluan pemantauan/monitoring maka disarankan melakukan pengambilan spesimen biomarker yang mudah cara pengambilannya dan tidak berdampak psikologis terhadap pasien, misalnya rasa takut atau stress.
b.      Untuk keperluan penelitian maka hendaknya diambil spesimen biomarker yang dapat mewakili/representatif, dan dilakukan penghitungan besar sampelyang akan diambil (sampel size).
c.       Menentukan spesimen biomarker yang mudah pemeriksaannya sesuai dengan kemampuan petugas dan ketersediaan alat serta mempertimbangkan keselamatan dan pengerjaannya (safety working).
2.    Spesimen Darah
a.       Pengambilan Spesimen Darah
1)      Alat dan Bahan
a)      Spuit/disposible syringe
b)      Blood lancet
c)      Karet pengikat lengan/torniquet
d)     Kapas
e)      Alkohol 70 %
2)      Wadah Spesimen
a)      Untuk darah vena, memerlukan wadah/botol terbuat dari kaca, atau tetap didalam spuit.
b)      Untuk darah kapiler tidak memerlukan wadah.
c)      Wadah dapat berukuran kecil atau ukuran volume 5 ml.
3)      Bahan Anti Koagulan
a)      Ethylene Diamine Tetra Acetat (EDTA) yang digunakan dalam bentuk padat dengan perbandingan 1 : 1.
b)      Heparin dapat digunakan dalam bentuk cair atau padat.
4)      Tempat pengambilan dan Volume Spesimen
Ada 2 tempat pengambilan spesimen darah, yaitu :
a)      Ujung jari tangan /kaki (Darah Kapiler). Digunakan apabila mengambil darah dalam jumlah sedikit atau tetesan (dipakai untuk screaning test).
b)      Lipatan lengan/siku (Darah Vena). Digunakan apabila mengambil darah dalam jumlah agak banyak, misalnya : 1 s/d 10 ml.
5)      Cara Pengambilan Spesimen
a)      Darah Kapiler
Adapun cara mengambil spesimen sebagai berikut :
(1)   Bersihkan tempat yang akan ditusuk memakai kapas beralkhohol 70 % dan biarkan sampai kering.
(2)   Peganglah bagian yang akan ditusuk supaya tidak bergerak dan tekan sedikit supaya rasa nyeri berkurang.
(3)   Tusuklah dengan cepat memakai lancet steril, pada jari tusukkan dengan arah tegak lurus pada garis-garis sidik kulit jari dan tidak boleh sejajar. Bila yang akan diambil spesimennya pada anak daun telinga tusukan pinggirnya dan jangan sisinya sampai darah keluar.

b)      Darah Vena
Cara pengambilan spesimen sebagai berikut :
(1)   Ikat lengan atas dengan menggunakan karet pengikat/torniquest, kemudia tangan dikepalkan.
(2)   Tentukan vena yang akan ditusuk, kemudian sterilkan dengan kapas beralkohol 70 %.
(3)   Tusuk jarum spuit/disposable syringe dengan posisi 45 derajat dengan lengan.
(4)   Setelah darah terlihat masuk dalam spuit, rubah posisi spuit menjadi 30 derajat dengan lengan, kemudian hisap darah perlahan-lahan hingga volume yang diinginkan.
(5)   Setelah volume cukup, buka karet pengikat lengan kemudian tempelkan kapas beralkohol pada ujung jarum yang menempel dikulit tarik jarum perlahan-lahan.
(6)   Biarkan kapas beralkohol pada tempat tusukan, kemudian lengan ditekuk/dilipat dan biarkan hingga darah tidak keluar.
(7)   Pindahkan darah dari disposable syringe ke wadah berisi anti koagulan yang disediakan, kemudian digoyang secara perlahan agar bercampur.
(8)   Jika spesimen ingin tetap dalam spuit, setelah darah dihisap kemudian dengan spuit yang sama dihisap pengawet/anti koagulan.

6)      Identitas Spesimen
Spesimen diberi nomor dan kode, sedangkan identitas lengkap dapat dilihat pada buku registrasi yang berisikan nomor, tanggal, nama responden, umur, jenis kelamin, jenis pemeriksaan.
b.      Pengiriman Spesimen Darah
1)      Setelah spesimen terkumpul masing-masing dalam wadah/botol kecil, kemudian dimasukan dalam wadah/tempat yang lebih besar dengan diberi es sebagai pengawet sementara (cool box).
2)      Wadah spesimen kecil diatur sedemikian rupa sehingga tidak mudah terbalik atau tumpah.
3)      Wadah diberi label yang berisi tentang identitas yang meliputi : tanggal pengiriman, jenis dan jumlah sampel, jenis pemeriksaan yang diminta, jenis pengawet, dan tanda tangan pengirim.
4)      Sampel dikirim ke laboratorium Balai Teknik Kesehatan Lingkungan, Balai Laboratorium Kesehatan atau laboratorium lainnya.
5)      Transportasi pengiriman harus secepat mungkin sampai ke laboratorium, pengiriman spesimen maksimum 3 hari.
c.       Pemeriksaan Spesimen Darah
Ada beberapa metoda yang dapat digunakan untuk memeriksa kadar timah hitam dalam darah, antara lain metoda Dithizone dan metoda Spektrofotometrik Serapan Atom. Pemilihan metoda pemeriksaan disesuaikan dengan kemampuan sumber daya yang tersedia, baik tenaga, bahan pemeriksaan ataupun peralatan.

a.       Analisa Hasil
Kadar Timah hitam dibandingkan dengan Biological Exposure Index (BEI) atau nilai index untuk pajanan biologi. Menurut WHO (tahun 1977) nilai pada orang dewasa normal adalah 10 s/d 25 µg per desiliter.
1.    Spesimen Urine
a.       Pengambilan Spesimen
1)      Wadah Spesimen
a)      Wadah spesimen urine harus bersih dan kering.
b)      Dapat terbuat dari plastik atau botol gelas.
c)      Mulut wadah lebar dan dapat ditutup rapat.
d)     Wadah berwarna terang.
2)      Bahan Pengawet
a)      Formalin 37 %.
b)      Ethylene Diamine Tetra Acetat (EDTA).
3)      Cara Pengambilan Spesimen
a)      Urine ditampung selama 24 jam.
b)      Urine yang telah ditampung diambil sebanyak 50 – 100 ml, kemudian tambahkan dengan 2 ml formalin 27 % atau 100 mg EDTA, kemudia kocok hingga homogen.
4)      Identitas Spesimen
Spesimen diberi nomor dan kode, sedangkan identitas lengkap dapat dilihat pada buku registrasi yang berisikan nomor, tanggal, nama responden, umur, jenis kelamin, jenis pemeriksaan.
b.      Pengiriman Spesimen
a)      Setelah spesimen urine terkumpul masing-masing dalam wadah/botol kecil, kemudian dimasukan dalam wadah/tempat yang lebih besar dengan diberi es sebagaui pengawet sementara (cool box).
b)      Wadah spesimen kecil diatur sedemikian rupa sehingga tidak mudah terbalik atau tumpah.
c)      Pengiriman harus secepat mungkin sampai ke laboratorium (tidak lebih dari 3 hari).
c.       Pemeriksaan Spesimen
Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk memeriksa kadar timah hitam dalam urine, antara lain metode Ditizone dan metode Spektofotometrik Serapan Atom.
Pemilihan metode pemeriksaan disesuaikan dengan kemampuan sumber daya yang tersedia, baik tenaga, bahan pemeriksaan ataupun peralatan.
d.      Analisa Hasil
Kadar timah hitam dibandingkan dengan Biological Exposure Index (BEI) atau nilai index untuk pajanan biologi. Kadar timah hitam dalam darah 50µg/100ml. Kadar timah hitam dalam urine 150µg/ml creatinine. Zinc protoporphynin dalam darah (setelah 1 bulan terekspos) 250 µg/100 ml erythrocytes atau 100 µg/100 ml darah.


2.      Spesimen Rambut
a.       Pengambilan Spesimen
1)        Wadah Spesimen
a)      Wadah spesimen rambut harus bersih dan kering.
b)      Wadah spesimen merupakan kantong plastik yang dapat tertutup rapat.
2)      Cara Pengambilan Sampel
a)      Spesimen diambil dikepala bagian belakang.
b)      Ikat rambut sebesar batang korek api dengan menggunakan benang.
c)      Potong rambut pada bagian pangkalnya.
d)     Spesimen disimpan dalam kantong plastik tertutup rapat.
3)      Identitas Spesimen
Spesimen diberi nomor dan kode, sedangkan identitas lengkap dapat dilihat pada buku registrasi yang berisikan nomor, tanggal, nama responden, umur, jenis kelamin, jenis pemeriksaan.
b.      Pengiriman Spesimen
1)      Setelah spesimen rambut terkumpul masing-masing dalam kantong plastik tertutup, kemudian dimasukan dalam wadah/tempat yang lebih besar.
2)      Pengiriman harus secepat mungkin sampai ke laboratorium.
c.       Pemeriksaan Spesimen
Ada beberapa metoda yang dapat digunakan untuk memeriksa kadar timah hitam dalam rambut, antara lain metoda Dithizone dan metoda Spektrofotometrik Serapan Atom. Pemilihan metoda pemeriksaan disesuaikan dengan kemampuan sumber daya yang tersedia, baik tenaga, bahan pemeriksaan ataupun peralatan.
d.      Analisa Hasil
Kadar timah hitam dibandingkan dengan Biological Exposure Index (BEI) atau nilai index untuk pajanan biologi berdasarkan pada KEPMENKES Nomor 1406/MENKES/SK/XI/2002 Tentang Standar Pemeriksaan Kadar Timah Hitam Pada Spesimen Biomarker Manusia.
















A.    Kerangka Teori
Berdasarkan uraian tinjauan di atas maka kerangka teoritis sebagai
berikut :

Sumber Polutan
Asap Kendaraan Bermotor

Faktor Lingkungan
Polusi Timbal

Polusi Udara

Inhalasi

Pencernaan
(makanan dan minuman)

Kulit

Faktor Pekerjaan

Masa Kerja

Keracunan Timbal
 













Sumber :Palar (2008), Oktaria (2009).







B.     Kerangka Konsep

Variabel Bebas


Petugas Pengisian Bahan Bakar Minyak (BBM)

Variabel Terikat

Jumlah Kadar Timbal (Pb) dalam urine

Ø  Masa Kerja
Ø  Lama Kerja
Ø  Berat Badan
Ø  Umur

Karakteristik Responden
 










C.    Variabel Penelitian
Variabel yang diteliti dalam penelitian ini adalah :
1.      Variabel Bebas
Sebagai variabel bebas adalah petugas pengecor Bahan Bakar Minyak (BBM) pada  Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Karakteristik responden meliputi masa kerja, lama kerja, berat badan dan umur.
2.      Variabel Terikat
Sebagai variabel terikat adalah jumlah kadar timbal (Pb) yang terkandung dalam urine petugas Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).





D.    Definisi Operasional
NO
Variabel
Definisi
Cara Ukur
Hasil Ukur
Skala
1









Variabel bebas : Pekerja Pengisian Bahan Bakar Minyak (BBM)





Karakteristik Responden

-          Masa kerja



-          Lama Kerja








-          Berat badan







Pekerja yang bertugas mengisi BBM di SPBU kabupaten Pringsewu




Waktu kerja dalam satu tahun

Lama waktu kontak responden dengan pajanan ditempat bekerja


Berat badan responden pada saat  dilakukan penelitian


Wawancara










Wawancara



Wawancara








Penimbangan





Data Umum : nama, umur, jenis kelamin








Tahun



Jam/Hari








kg

Ordinal










Rasio



Rasio








Rasio

2










Variabel Terikat
Kadar logam timbal (Pb) dalam urine


Kadar timbal (Pb) dalam urine petugas SPBU kabupaten Pringsewu



Pemeriksaan kadar timbal (Pb) diukur dengan menggunakan metode spetrofotometri


Jumlah kadar timbal (Pb) yang terkandung dalam  urine



Rasio
BAB III
METODE PENELITIAN

A.    Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini bersifat deskriptif analitik dimana penelitian ini menggambarkan dan menganalisis kadar logam timbal (Pb) dalam urine petugas Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kabupaten Pringsewu.
B.     Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian adalah survei crosssectional yaitu penelitian dimana variabel-variabel yang termasuk faktor resiko dan variabel-variabel yang termasuk efek diobservasi sekaligus pada waktu yang bersamaan (Notoatmojo,2010).
1.    Variabel Bebas penelitian ini adalah adanya logam timbal dalam urine petugas Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kabupaten Pringsewu. Karakteristik responden meliputi masa kerja, lama kerja, berat badan dan umur.
2.    Variabel Terikat pada penelitian ini adalah jumlah kadar timbal dalam urine petugas Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kabupaten Pringsewu.
C.    Populasi dan Sampel
1.      Populasi
Populasi sampel untuk analisis logam timbal (Pb) adalah urine petugas Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum  sebanyak 18  orang yang bekerja sudah lebih dari 5 tahun.


2.      Sampel
Sampel yang akan diambil dalam penelitian ini adalah urine petugas pengisian bahan bakar yang bekerja sudah lebih dari 5 tahun, karena keracunan logam timbal (Pb) bersifat kronis dapat terlihat dalam jangka waktu menahun. Sampel diambil dari petugas pengisian bahan bakar yang sudah bekerja lebih dari 5 tahun. Banyaknya jumlah total keseluruhan sampel yang diambil adalah sebanyak 18 sampel.
D.    Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Kabupaten Pringsewu untuk pengambilan sampel urine petugas SPBU tersebut. Sedangkan untuk pemeriksaan sampel dalam penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Terpadu Politeknik Kesehatan Tanjungkarang pada bulan Agustus 2015.
E.     Pengumpulan Data
1.      Jenis data yang dikumpulkan
a.       Data Primer
Data primer yang mencakup variabel-variabel yang diteliti diperoleh pada sampel menggunakan instrumen kuesioner sebagai alat untuk wawancara yang terpilih sebagai subyek penelitian, dan pengukuran kadar Pb dalam urine petugas Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di kabupaten Pringsewu dilakukan 1 (satu) kali pemeriksaan.



b.      Data Sekunder
Data sekunder diperoleh dari kantor pelayanan pada setiap SPBU yang ada di kabupaten Pringsewu, dengan cara mengutip laporan yang mencakup tahun berdirinya dan jumlah karyawan SPBU yang mendukung penelitian.
2.      Alat pengumpul data
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
a.    Kuesioner adalah alat untuk mengumpulkan data yang dilakukan dengan cara mengajukan serangkaian pertanyaan pada responden guna mendapatkan informasi secara langsung. Dalam hal ini peneliti melakukan wawancara secara langsung dengan petugas di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kabupaten Pringsewu.
b.    Pemeriksaan kadar timbal (Pb) dalam urine dengan metode Spektofotometri. Prosedur pengambilan, pengiriman, pemeriksaan dan analisa hasil :
1)      Pengambilan Spesimen
a)    Wadah Spesimen
(1)     Wadah spesimen urine harus bersih dan kering
(2)     Dapat terbuat dari plastik atau botol gelas
(3)     Mulut wadah lebar dan dapat ditutup rapat
(4)     Wadah berwarna terang
b) Bahan Pengawet
(1)     Formalin 37 %
(2)     Ethylene Diamine Tetra Acetat (EDTA)
c) Cara Pengambilan Spesimen
(1)     Urine ditampung selama 24 jam
(2)     Urine yang telah ditampung diambil sebanyak 50 – 100 ml, kemudian tambahkan dengan 2 ml formalin 27 % atau 100 mg EDTA, kemudia kocok hingga homogen.
d)    Identitas Spesimen
Spesimen diberi nomor dan kode, sedangkan identitas lengkap dapat dilihat pada buku registrasi yang berisikan nomor, tanggal, nama responden, umur, jenis kelamin, jenis pemeriksaan.
2)      Pengiriman Spesimen
a)   Setelah spesimen urine terkumpul masing-masing dalam wadah/botol kecil, kemudian dimasukan dalam wadah/tempat yang lebih besar dengan diberi es sebagaui pengawet sementara (cool box).
b)   Wadah spesimen kecil diatur sedemikian rupa sehingga tidak mudah terbalik atau tumpah.
c)   Pengiriman harus secepat mungkin sampai ke laboratorium (tidak lebih dari 3 hari).
3)      Pemeriksaan Spesimen
Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk memeriksa kadar timah hitam dalam urine, antara lain metode Dithizone, metode Spektrofotometri dan metode Spektofotometrik Serapan Atom.
Pemilihan metode pemeriksaan disesuaikan dengan kemampuan sumber daya yang tersedia, baik tenaga, bahan pemeriksaan ataupun peralatan.
4)      Analisa Hasil
Kadar timah hitam dibandingkan dengan Biological Exposure Index (BEI) atau nilai index untuk pajanan biologi. Kadar timah hitam dalam darah 50µg/100ml. Kadar timah hitam dalam urine 150µg/ml creatinine. Zinc protoporphynin dalam darah (setelah 1 bulan terekspos) 250 µg/100 ml erythrocytes atau 100 µg/100 ml darah.
F.     Pengolahan dan Analisis Data
1.      Pengolahan Data
Data yang diperoleh dari observasi kemudian diolah dengan tahapan sebagai berikut :
a)         Coding yaitu, pemberian kode pada sampel urine dengan kode A1 – A6 untuk SPBU Sukoharjo, B1 - B7 untuk SPBU Pringsewu Barat, dan C1 – C5 untuk SPBU Tambah Rejo, hal ini dilakukan agar tidak terjadi kekeliruan dalam pengolahannya.
b)        Editing yaitu, pengoreksian kembali data-data yang diperoleh seperti nama responden, umur, lama kerja, dan berat badan sehingga data yang didapat adalah data yang sebenarnya.
c)         Tabulating yaitu, memasukan data kedalam tabel seperti nama responden, umur, lama kerja, dan berat badan untuk kemudian diberi penjalasan (narasi).
d)        Cleaning yaitu, melakukan pembersihan dan pengecekan kembali data-data yang diperoleh seperti nama responden, umur, jenis kelamin, masa kerja, lama kerja dan berat badan .Kegiatan ini perlu dilakukan untuk mengetahui apakah ada kesalahan ketika memasukan data.
2.      Analisis Data
Data yang diperoleh dari hasil observasi melalui pemeriksaan kadar timbal (Pb) dalam urine petugas Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) se-kabupaten Pringsewu.
 Kemudian hasil pemeriksaan kadar timbal (Pb) dalam urine petugas SPBU dibandingkan dengan Kepmenkes RI No.1406/MENKES/SK/XI/2002 tentang Standar Pemeriksaan Kadar Timah Hitam  pada Spesimen Biomarker Manusia.