Hallo gaesssss apa kabar , udah lama nih gak ngeblog dan sekarang ane mau posting macem-macem karya tulis ilmiah kesehatan lingkungan , ane tau susahnya buat KTI tanpa ada refrensi jadi ane mau sedikit berbagi apa yang ane punya , tapi ingat ini bukan buat di copy atau di samakan isinya 100 % setidaknya postingan ini bisa menjadi sedikit refrensi
Kumpulan Judul KTI
- Tinjauan sanitasi Makanan dan Minuman di RS X
- Tinjauan Kualitas Mikrobiologis Pada Sumber Air Bersih di Desa X Kecamatan X Kabupaten X
- Keadaan konstruksi Sumur Gali di Desa X Kecamatan X Kabupaten X-
- Hubungan Pemakaian
Obat Anti Nyamuk dan Kebiasaan Masyarakat Menggantung Pakaian Terhadap Penyakit
DBD di Desa X
- Tinjauan
Sistem Pembuangan tinja pada Desa X Kec .X
- Sistem Pengelolaan Sampah Pasar X kecamatan X Kabupaten X Tahun 20XX.
- Sistem Pengelolaan Sampah Pasar X kecamatan X Kabupaten X Tahun 20XX.
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Perwujudan kualitas lingkungan yang sehat
merupakan bagian pokok dibidang kesehatan. Udara sebagai komponen lingkungan
yang penting kehidupan perlu dipelihara dan ditingkatkan kualitasnya sehingga
dapat meningkatkan daya dukung untuk lingkungannya.Pencemaran atau polusi
adalah suatu kondisi yang telah berubah dari bentuk asal pada keadaan yang
lebih buruk. Suatu lingkungan hidup dikatakan tercemar apabila telah terjadi
perubahan-perubahan dalam tatanan lingkungan itu sehingga tidak sama lagi
dengan bentuk asalnya, sebagai akibat dari masuk dan atau dimasukkannya suatu
zat atau benda asing kedalam tatanan lingkungan itu (Palar,2008).
Pencemaran udara dewasa ini semakin menampakan
kondisi yang sangat memprihatinkan. Sumber pencemaran udara dapat berasal dari
berbagai kegiatan antara lain industri, transportasi, perkantoran dan perumahan.
Berbagai kegiatan tersebut merupakan kontribusi
terbesar dari pencemaran udara yang dibuang ke udara bebas. Menurut Peraturan
Pemerintah Nomor 41 Tahun 1999 yang berisikan jenis parameter udara pada baku
mutu udara ambien yang berisikan antara lain : Sulfur dioksida (So2),
karbon monoksida (CO), Nitrogen dioksida (NO2), Oksidan (O3),
Hidro karbon (HC), PM 10, PM 2,5, TSP (debu), Dustfall (debu jatuh), Pb (Timah
Hitam).
Timbal atau dalam keseharian lebih dikenal dengan nama
timah hitam, dalam bahasa ilmiahnya dinamakan plumbum, dan logam ini disimbolkan dengan Pb (Palar, 2008).
Pajanan occupational
di lingkungan kerja melalui saluran pernapasan dan saluran pencernaan terutama
oleh Pb karbonat dan Pb Sulfat. Pb dan senyawanya masuk kedalam tubuh manusia
melaui saluran pernapasan dan saluran pencernaan, sedangkan absorpsi melalui
kulit sangat kecil sehingga dapat diabaikan, absorpsi Pb melalui pernapasan
dipengaruhi oleh tiga proses yaitu deposisi, pembersihan mukosiliar dan
pembersihan alveolar. Rata-rata 10-30%
Pb yang terinhalasi di absorpsi oleh paru-paru dan sekitar 5-10% dari
yang tertelan diabsorpsi melalui saluran cerna, sedangkan sebanyak 30-40% Pb
yang diabsorpsi melalui pernapasan akan masuk kedalam darah, masuknya Pb ke
aliran darah tergantung pada ukuran partikel, daya larut, volume pernapasan dan
variasi faal antar individu.
Pb yang di absorpsi diangkut oleh darah ke
organ-organ tubuh sebanyak 95%, Pb dalam darah diikat oleh eritrosit. Sebagian
Pb plasma dalam bentuk yang dapat berdifusi dan diperkirakan dalam pool Pb
tubuh lainnya yang dibagi menjadi dua yaitu jaringan lunak (sumsum tulang,
sistem saraf, ginjal, hati) dan ke jaringan keras (tulang, gigi, kuku, rambut).
Pajanan melalui saluran pernapasan dan saluran
pencernaan terutama oleh Pb karbonat dan Pb sulfat, masukan Pb antara 100
hingga 350 µg/hari dan 20 µg/hari dan
diinhalasi melalui uap Pb dapat menimbulkan gangguan kesehatan.
Maka sejalan dengan lama dan tingkat pemaparan terhadap partikel Pb, maka
dapat menimbulkan gangguan kesehatan. Salah satu tempat yang memungkinkan
terjadinya pencemaran logam timbal (Pb) adalah Stasiun Pengisian Bahan Bakar
Umum (SPBU).
SPBU merupakan tempat umum karena merupakan suatu tempat
dimana orang banyak atau masyarakat umum berkumpul untuk melakukan kegiatan baik secara
sementara (insidentil) maupun secara
terus menerus (permanent).
Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) adalah tempat
di mana kendaraan bermotor bisa memperoleh bahan bakar minyak.Di
Indonesia,Stasiun Pengisian Bahan Bakar dengan nama SPBU (Stasiun Pengisian
Bahan Bakar Umum).Di SPBU konsumen tidak hanya bisa mendapatkan bahan bakar
minyak saja namun juga bisa memanfaatkan sarana dan fasilitas yang disediakan.
SPBU merupakan tempat pengisian bahan bakar umum yang
memungkinkan terjadinya pencemaran Timbal (Pb) yang berasal dari bensin. Timbal
yang berada di sekitar SPBUdapat menyebabkan pencemaran udara sehingga dapat
mempengaruhi tingkat kesehatan orang-orang yang berada di sekitar SPBU terutama
para pekerjanya.
Di kabupaten Pringsewu terdapat 4 buah Stasiun Pengisian
Bahan Bakar Umum (SPBU) yakni : 1 buah di Kecamatan Pringsewu Barat dengan
jumlah total pekerja sebanyak 26 orang, 1 buah di Kecamatan Sukoharjo dengan
jumlah total pekerja sebanyak 21 orang, 1 buah di Desa Tambah Rejo Kecamatan
Gadingrejo dengan jumlah total pekerja sebanyak 23 orang, 1 buah di Kecmatan Pardasuka
dengan jumlah total pekerja sebanyak 27 orang.
Berdasarkan wawancara awal yang dilakukan kepada petugas
Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum berkaitan dengan pemeriksaan kandungan logam
timbal (Pb) dalam urine petugas pengisian di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum
(SPBU) belum pernah dilakukan oleh pihak Pertamina maupun, pihak Dinas
Kesehatan Kabupaten Pringsewu. Sedangkan menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor 1406/ MENKES/ SK/ XI/ 2002 tentang standar pemeriksaan kadar
timah hitam pada spesimen biomarker manusia kadar timbal (Pb) yang
diperbolehkan dalam urine adalah sebanyak 150 µg Pb/100 ml cretinine.
Hal tersebut
mendorong penulis untuk meneliti lebih lanjut untuk mengetahui berapa tingkat
kadar logam timbal (Pb) yang terkandung dalam urine petugas pengisian yang ada
di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum
(SPBU) di kabupaten Pringsewu. Dalam penelitian yang berjudul Pemeriksaan Kadar
Timbal (Pb) pada Urine Petugas Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU)
se-Kabupaten Pringsewu tahun 2015.
B.
Rumusan Masalah
Paparan Pb
dengan dosis rendah secara terus-menerus yang berlangsung lama akan berdampak terhadap gangguan kesehatan, diperkirakan
dalam jangka waktu tertentu para petugas pengisian bahan bakar di Stasiun
Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) akan mengalami gangguan kesehatan akibat
paparan Pb. Hal ini dikarenakan konsumsi bensin di Indonesia sebesar 95,46%
adalah bensin yang mengandung Pb, dengan demikian potensi paparan Pb di
lingkungan kerja petugas pengisian bahan bakar akan semakin meningkat.
Berdasarkan
wawancara awal yang dilakukan kepada petugas Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum
(SPBU) di kabupaten Pringsewu berkaitan dengan pemeriksaaan kandungan logam
timbal (Pb) dalam urine petugas Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) belum
pernah dilakukan pemeriksaan kadar timbal (Pb) dalam urine petugas SPBU oleh
pihak Pertamina maupun pihak Dinas Kesehatan kabupaten Pringsewu.
Berdasarkan
uraian latar belakang yang telah dipaparkan, peneliti ingin mengetahui tentang
“Kadar Timbal (Pb) Dalam Urine Petugas Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum
(SPBU) di Kabupaten Pringsewu”
C.
Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui kadar Timbal (Pb) yang terdapat
di dalam urine petugas pengisian Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di
Kabupaten Pringsewu.
D.
Manfaat Penelitian
1. Memberikan informasi tentang bahaya dari
logam timbal (Pb) yang terkandung dalam urine petugas Stasiun Pengisian Bahan
Bakar Umum (SPBU) di kabupaten Pringsewu.
2. Menambah pengetahuan penulis dan pembaca
tentang bahaya logam timbal (Pb) yang terdapat dalam tubuh manusia.
3. Dapat menjadi informasi dan pengetahuan
untuk penelitian lebih lanjut.
E.
Ruang Lingkup Penelitian
Dalam
penelitian ini penulis membahas mengenai kajian studi analisis pemeriksaan
kadar timbal (Pb) dalam urine petugas Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU)
di Kabupaten Pringsewu .
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Pencemaran Lingkungan
Pencemaran menurut UU No. 32 tahun 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup adalah masuknya atau dimasukannya
makhluk hidup, zat, energi atau komponen lain kedalam lingkungan dan atau
berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam, sehingga
kualitas lingkungan turun sampai ketingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan
menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya (UU
No 32, 2009).
Suatu lingkungan dikatakan tercemar apabila telah
terjadi perubahan-perubahan dalam tatanan lingkungan itu sehingga tidak sama
lagi dengan bentuk asalnya, sebagai akibat dari masuknya dan atau dimasukkannya
suatu zat atau benda asing kedalam tatanan lingkungan itu. Perubahan yang
terjadi sebagai akibat dari masuknya benda asing itu, memberikan dampak buruk
terhadap organisme yang sudah ada dan hidup dengan baik dalam tatanan
lingkungan tersebut. Sehingga lingkungan tersebut telah tercemar dalam
tingkatan yang tinggi, dapat membunuh dan bahkan menghapuskan satu atau lebih
jenis organisme yang tadinya hidup normal dalam tatanan lingkungan itu. Jadi
pencemaran lingkungan merupakan suatu perubahan dalam suatu tatanan lingkungan
asli menjadi suatu tatanan lingkungan baru yang lebih buruk dari tatanan
aslinya. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pencemaran suatu tatanan
lingkungan hidup disebabkan oleh banyak hal, namunyang palingutama dari semakin
banyak penyebab tercemarnya suatu tatanan lingkungan adalah limbah gas, padat
dan cair (Palar, 2008).
B.
Pencemaran Udara
Pencemaran udara di artikan
sebagai hadirnya satu atau beberapa kontaminan di dalam udara (atmosfer) seperti debu, busa, gas kabut,
bau-bauan, asap atau uap dalam kuantitas tertentu yang dapat menimbulkan
gangguan –gangguan terhadap kehidupan manusia, tumbuh-tumbuhan atau hewan
maupun benda-benda, sehingga mempengaruhi kehidupan organisme maupun benda.
Bahan pencemaran udara dapat
dikelompokkan berdasarkan jenisnya sebagai berikut :
1. Partikel
Yaitu semua bahan pencemar di
udara yang berupa debu padat, ataupun titik air. Adapun sumbernya antara lain
pertambangan terbuka, aktifitas manusia, aktifitas gunung berapi dan lain-lain.
2. Senyawa Kimia
Yaitu semua bahan pencemar di
udara yang merupakan senyawa kimia baik organik maupun anorganik. Bahan
pencemar ini umumnya berasal dari aktifitas manusia seperti proses-proses kimia
pabrik, pembakaran bahan bakar, asap rokok dan sebagainya.Terdapat 2 jenis zat
pencemar :
a. Zat pencemar primer, yaitu zat kimia yang
langsung mengkontaminasi udara dalam konsentrasi yang membahayakan. Zat tersebut
berasal dari komponen udara alamiah seperti karbondioksida, yang meningkat di
atas konsentrasi normal, atau sesuatu yang tak biasa ditemukan dalam udara
misalnya timbal.
b. Zat pencemar sekunder, yaitu zat kimia
berbahaya yang terbentuk di atmosfer melalui reaksi kimia antar
komponen-komponen di udara.
C.
Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU)
Stasiun pengisian bahan bakar minyak (BBM)
untuk umum adalah setiap tempat untuk melayani pembelian BBM yang terdiri dari
Stasiun Pengisian Bahan Bakar untuk Umum (SPBU),Premium Solar Packed Dealer (PSPD),Agen Premium dan Minyak Solar
(APMS),Stasiun Pengisian Bahan Bakar Bunker (SPBB),Stasiun Pengisian Bahan
Bakar Industri (SPBI),Stasiun Pengisian Bahan Bakar untuk Tentara Nasional
Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (SPBT/P) dan Bunkerservice PT.Pertamina (Persero).
Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU)
adalah tempat dimana kendaraan bermotor bisa memperoleh bahan bakar.
Banyak Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum
(SPBU) yang juga menyediakan layanan tambahan.Misalnya,musholla,pompa
angin,toilet dan lain sebagainya.Stasiun Pengisian Bahan Bakar Modern,biasanya
dilengkapi dengan minimarket, tidak heran apabila SPBU juga menjadi tempat
istirahat (http://id.wikipedia.org/wiki/Stasiun_pengisian_bahan_bakar).
SPBU
(Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) merupakan prasarana umum yang disediakan
oleh PT.Pertamina untuk masyarakat luas guna memenuhi kebutuhan bahan
bakar.Pada umumnya SPBU menjual bahan bakar sejenis premium,solar,pertamax dan
pertamax plus. Adapun program PT. Pertamina dalam kegiatan SPBU adalah sebagai
berikut:
1. Pertamina Way
Pertamina Way adalah program yang diluncurkan
oleh PT.Pertamina dengan penerapan standar pelayanan yang terdiri dari 5 (lima)
elemen,yaitu pelayanan staff yang terlatih dan termotivasi,jaminan kualitas dan
kuantitas,fasilitas dan peralatan yang terawat dengan baik,memiliki format
fisik yang konsisten,dan penawaran produk dan pelayanan bernilai tambah dengan
operator yang selalu menerapkan 3 S (Senyum,Salam,Sapa).
2. Pasti Pas
Pasti Pas adalah SPBU yang telah mendapatkan
sertifikat Pasti Pas! Dari auditor independen dengan jaminan pelayanan terbaik
yang memenuhi standar kelas dunia.Konsumen akan mendapatkan kualitas dan
kuantitas BBM yang terjamin,pelayanan yang ramah,serta fasilitas yang nyaman.
D.
Timah Hitam (Plumbum Pb)
Keterlibatan aktivitas manusia terutama dalam
proses indrustrialisasi di abad 19 dan 20 telah mengakibatkan pencemaran
lingkungan. Penggunaan logam Pb dalam industri menghasilkan polutan yang bersifat
merugikan kehidupan biologis. Sumber utama polisi Pb pada lingkungan berasal
dari proses pertambangan, peleburan dan pemurnian logam tersebut, hasil limbah
industri, dan asap kendaraan bermotor.
1. Sifat Fisik dan Kimiawi Pb
Timbal yang kita kenal sehari-hari dengan
timah hitam dan dalam bahasa ilmiahnya dikenal dengan nama plumbum dan kelompok
logam-logam golongan IV – A pada tabel periodik unsur kimia. Mempunyai nomor
atom (NA) 82 dengan bobot atau berat (BA) 207,2 adalah suatu logam berat
berwarna kebiru-biruan dan lunak dengan titik leleh 327 C dan titik didih 1.620 C. Pada suhu 550 – 660 C. Pb mebguap
dan membentuk oksigen dalam udara yang kemudian timbal oksida. Bentuk oksida
yang paling umum adalah timbal (II). Walaupun bersifat lenuk dan lentur, Pb
sangat rapuh dan mengkerut pada pendinginan, sulit larut dalam air dingin, air
panas dan air asam timah hitam dapat larut dalam asam nitrit, asam asetat dan
asam sulfat pekat.
2. Bentuk Persenyawaan Pb dan Kegunaan Timah
Hitam (Pb)
Pb yang merupakan hasil samping dari
pembakaran ini berasal senyawa tetraetil-Pb yang selalu ditambahkan ke dalam
bahan bakar kendaraan bermotor dan berfungsi sebagai anti ketuk (anti – Knock)
pada mesin – mesin kendaraan. Pb juga sebagai zat peningkat oktan dalam
produksi gasoline dengan pertimbangan bahwa Pb memiliki kepekaan yang tinggi
dalam meningkatkan angka oktan,dimana setiap tambahan 0,1 gram timbal dalam 1 liter
gasoline mempu menaikan angka oktan dengan 1,5 – 2 satuan angka oktan, selain
itu kegunaan Pb dapat dilihat pada Tabel 1.1:
Tabel 1.1
Bentuk Persenyawaan Pb dan Kegunaannya
Bentuk Persenyawaan
|
Kegunaan
|
Pb + Sb
|
Kabel telepon
|
Pb + As+ Sn + Bi
|
Kebel listrik
|
Pb + Ni
|
Senyawa azida untuk bahan peledak
|
Pb + Cr + Mo + CI
|
Untuk pewarnaan pada cat
|
Pb – Asetat
|
Pengkilapan keramik dan bahan anti api
|
Pb + Te
|
Pembangkit listrik tenaga panas
|
Tetranetil – Pb & Tetraetil – Pb
|
Additive untuk bahan bakar kendaraan
|
(Palar,2008)
3. Pb pada Bahan Bakar
Timah hitam ditambahkan pada bahan bakar
kendaraan bermotor dalam bentuk senyawa organik tetraalkylead, terdiri dari tetramethyllead
(TML), tetraethylead (TEL), dan
campuran alkil Triethylmethylead, diethylmehyllead dan ethyltrimethyllead. Tidak ada timah
hitam yang ditambahkan pada bahan bakar solar (diesel) dan minyak tanah. TEL
dan TML secara bersama-sama ditambahkan kedalam bensin sebagai adiktif anti
ketukan mesin dan menaikkan angka oktan bensin. TEL berbentuk cairan berat
dengan kerapatan 1,659 g/ml, titik didih 200 C = 390 F dan larut dalam bensin.
Metil klorida (CH3CI) dan etil
klorida (C2H5CI) merupakan bahan utama pembuatan senyawa TEL, dengan reaksi
pembentukan sebagai berikut :
4CH3 + CI- + 4Na+Pb- →4Na + CI- +3Pb- +
(CH3)4 + Pb-
Methil Klorida Tetra
metil lead (TML)
4C2H5 + CI-
+ 4Na + Pb- → 4Na + CI- + 3 Pb+
+ (C2H5)4 + Pb+
Etil klorida Tetra
etil lead ( TEL)
4. Kandungan Senyawa Pb Dalam Gas Buangan
Kendaraan Bermotor
Emisi Pb ke dalam lapisan atsmofir dapat
berbentuk gas dan partikulat. Emisi Pb yang masuk dalam bentuk gas, terutama
sekali berasal dari buangan gas kendaraan bermotor. Emisi tersebut merupakan
hasil samping dari pembakaran yang terjadi dalam mesin-mesin kendaraan. Pb yang
merupakan hasil samping dari pembakaran ini berasal dari senyawa tetrametl-Pb
dan tetraetil-Pb yang selalu ditambahkan dalam bahan bakar kendaraan bermotor
dan berfungsi sebagai anti ketuk (anti-knock)
dan penambah oktan pada mesin-mesin kendaraan. Disamping itu, dalam bahan bakar
kendaraan bermotor biasaanya ditambahkan pula bahan scavenger, yaitu etilendibromida (C2H4Br2)
dan etilendikhlorida (C2H4C12).
Senyawa ini dapat mengikat residu Pb yang dihasilkan setelah pembakaran,
sehingga didalam gas buangan terdapat senyawa Pb dengan halogen.
Bahan adiktif yang biasa dimasukkan ke dalam
bahan bakar kendaraan bermotor pada
umumnya terdiri dari 62% tetraetil-Pb, 18% etilendikhlorida, 18% etilendibromida
dan sekitar 2% campuran tambahan dari bahan-bahan yang lain. Jumlah senyawa Pb
yang jauh lebih besar dibandingkan dengan senyawa-senyawa lain dan tidak
musnahnya Pb dalam peristiwa pembakaran pada mesin menyebabkan jumlah Pb yang
dibuang ke udara melalui asap buangan kendaraan menjadi sangat tinggi. Berdasarkan
pada analisis yang pernah dilakukan, dapat diketahui kandungan bermacam-macam
senyawa Pb yang ada dalam asap kendaraan bermotor, kandungan senyawa Pb dalam
gas buangan kendaraan bermotor dapat dilihat pada Tabel 1.2:
Tabel 1.2
Kandungan Senyawa Pb Dalam Gas Buangan
Kendaraan Bermotor
Senyawa Pb (%)
|
0 jam
|
18 jam
|
PbBrCI
|
32,0
|
12,0
|
PbBrCI.2PbO
|
31,4
|
1,6
|
PbCI2
|
10,7
|
8,3
|
Pb(OH)CI
|
7,7
|
7,2
|
PbBr2
|
5,5
|
0,5
|
PbCI2.2PbO
|
5,2
|
5,6
|
Pb(OH)Br
|
2,2
|
0,1
|
PbOx
|
2,2
|
21,2
|
PbCO3
|
1,2
|
13,8
|
PbBr2.2PbO
|
1,1
|
0,1
|
PbCO3.2PbO
|
1,0
|
29,6
|
(Palar,2008)
5. Pb Pada Udara
Jumlah Pb di udara mengalami peningkatan yang
sangat drastis sejak dimulainya revolusi industri di Benua Eropa. Asap yang
berasal dari cerobong pabrik sampai pada knalpot kendaraan telah melepaskan Pb
ke udara. Hal ini berlangsung terus-menerus sepanjang hari, sehingga kandungan
Pb di udara naik secara sangat mencolok sekali. Kenyataan ini secara dramatis
dibuktikan dengan suatu hasil penelitian terhadap kandungan Pb yang terdapat
pada lapisan es di Greenland pada tahun 1969. Arus angin ternyata telah
menerbangkan debu-debu dan partikulat-partikulat yang mengandung logam Pb ke
daerah kutub. Debu dan partikulat tersebut menumpuk pada lapisan atmosfer di kutub, dan kemudiaan dibawa
turun oleh salju untuk selanjutnya membentuk lapisan es. Sampel-sampel yang
diambil pada kedalaman tertentu pada lapisan es di Greenland, dimana setiap
lapisan es mewakili umur sampel yang juga berarti umur endapan logam Pb pada
daerah tersebut. Dari penelitian ini diketahui bahwa kandungan Pb mulai
mengalami peningkatan setelah revolusi indsutri,yaitu sekitar abad ke-18. (Palar,2008)
6. Pb Dalam Air dan Makanan
Pb (timah hitam/timbal) dan persenyawaanya
dapat berada didalam badan perairan secara alamiah dan sebagai dampak dari
aktivitas manusia. Secara alamiah, Pb dapat masuk ke badan perairan melalui
pengkristalan Pb di udara dengan bantuan air hujan. Di samping itu, proses
kerosifikasi dari batuan mineral akibat hempasan gelombang dan angin, juga
merupakan salah satu sumber Pb yang akan masuk ke dalam badan perairan. Dan
sebagai dampak dari aktivitas manusia, Pb masuk kedalam perairan dalam bermacam
bentuk. Diantaranya adalah air buangan (limbah) dari industri yang berkaitan dengan
Pb, air dari pertambangan biji timah hitam dan buangan sisa industri baterai.
Selain kontaminasi Pb pada air, juga
ditemukan kontaminasi Pb pada makanan olahan atau makanan kaleng. Makanan yang
telah diasamkan dapat melarutkan Pb dari wadah atau alat-alat pengolahannya
(Palar,
2008).
7. Metabolisme Logam Timbal Pb
Metabolisme biotranformasi dan bahan-bahan
beracun merupakan faktor penentu utama terhadap daya racun zat terkait. Melalui
proses ini bahan-bahan beracun masuk kedalam tubuh akan mengalami peningkatan
racunnya atau akan mengalami penurunan dari daya racun yang dimilikinya, karena
dalam persitiwa ini setiap zat atau mineral yang masuk akan diolah dan diubah
menjadi bentuk-bentuk yang lebih sederhana atau persenyawaan sederhana. Dari
pada itu, proses perubahan bentuk merupakan rangkaian peristiwa kimiawi. Suatu
bahan beracun dapat saja berkaitan dengan behan beracun lainnya yang akan
meningkatkan daya racunnya yang sudah ada atau sebaliknya, ikatan tersebut akan
menurunkan atau menetralkan daya racun yang semula ada (Palar,2008).
Timbal merupakan logam yang bersifat toksik
terhadap manusia, yang bisa berasal dari tindakan mengkonsumsi makanan,
minuman, atau inhalasi dari udara , debu yang tercemar Pb, kontak dengan kulit,
kontak dengan mata, dan lewat parental. Logam Pb tidak dibutuhkan oleh tubuh
manusia sehingga bila makanan dan
minuman tercemar Pb dikonsumsi, maka tubuh akan mengeluarkannya. Orang dewasa
mengarsobsi Pb sebesar 5-15% dari keseluruhan yang dicerna, sedangkan anak-anak
mengarsobsi Pb lebih besar, yaitu 41,5%.
Logam timbal (Pb) dapat masuk dalam tubuh
manusia, salah satunya melalui inhalasi pernapasan saat menghirup udara yang
tercemar logam Pb. Di dalam tubuh manusia, Pb bisa menghambat aktivitas enzim yang
terlibat dalam pembentukan hemoglobin (Hb) dan sebagian kecil di ekskresikan
lewat urine atau fase karena sebagian terikat oleh protein, sedangkan sebagian
lagi terakumulasi dalam ginjal, hati, kuku, jaringan lemak, dan rambut. Waktu
paruh timbal dalam eritrosit adalah selama 35 hari, dalam jaringan ginjal dan
hati adalah 40 hari, sedangkan waktu paruh dalam tulang adalah adalah 30 hari.
Tingkat ekskresi Pb melalui sistem urinaria sebesar 76%, gastrointestinal 16%
dan rambut, kuku, serta keringat sebesar 8% (Klaassen, 1986).
Keracunan akibat kontaminasi logam Pb bisa
menimbulkan berbagai macam hal, seperti meningkatnya kadar ALAD (Amino Levulinic Acid Dehidratase) dalam
darah dan urin, meningkatnya kadar protoporphin
dalam sel darah merah, memperpendek sel darah merah, menurunkan jumlah sel
darah merah dan sel-sel darah merah yang masih muda (retikulosit), serta meningkatkan kandungan logam Fe dalam plasma
darah. Timbal (Pb) juga dapat mengakibatkan menurunnya kemampuan belajar, dan
membuat anak-anak bersifat hiperaktif. Selain itu, mempengaruhi organ-organ
tubuh, antara lain sistem saraf, ginjal, sistem reproduksi, sistem endokrin dan
jantung, serta gangguan pada otak sehingga anak mengalami gangguan kecerdasan
dan mental.
Kandungan Pb dalam darah berkolerasi dengan
tingkat kecerdasan manusia. Semakin tinggi kadar Pb dalam darah, semakin rendah
poin IQ. Apabila dalam darah ditemukan kadar Pb sebanyak tiga kali batas normal
(intake normal sekitar 0,3 mg/hari), maka akan terjadi penurunan kecerdasan
intelektual (IQ) dibawah 80. Kelainan fungsi otak terjadi karena Pb secara
kompetitif menggantikan peranan Zn, Cu, dan Fe dalam mengatur fungsi sistem
saraf pusat. Timbal Pb merupakan neurotoksin yang bersifat akumulatif. Setiap
kenaikan kadar Pb dalam darah sebesar 10 mg/dl menyebabkan penurunan IQ
sebanyak 2,5 poin (Widowati,2008).
8. Toksisitas Logam Timbal (Pb)
Pajanan timbal dalam jumlah kecil tetapi
dalam jangka waktu yang lama akan terjadi akumulasi, sehingga dapat menyebabkan
keracunan. Gejala keracunan kronis ringan berupa insomnia, sedangkan gejala
keracunan timbal aku ringan adalah menurunnya tekanan darah dan berat badan.
Keracunan akut yang cukup berat dapat mengakibatkan koma bahkan kematian
(Palar, 2008).
a. Efek logam timbal (Pb) Terhadap Ginjal
Senyawa-senyawa timbal (Pb) yang terlarut
dalam darah akan dibawa oleh darah keseluruh sistem tubuh. Pada peredarannya,
darah akan masuk ke glomerolus yang merupakan dari ginjal. Senyawa Pb yang
terlarut dalam darah ke sistem urinaria (ginjal) dapat mengakibatkan terjadinya
kerusakan pada saluran ginjal. Kerusakan yang terjadi tersebut disebabkan
terbentuknya intranuclear inclusion bodies yang disertai dengan membentuk aminocliduria (kelebihan asam amino
dalam urine) (Palar,2008).
b. Efek logam timbal (Pb) Terhadap Jantung
Organ lain dapat diserang oleh racun yang
dibawa oleh logam Pb adalah jantung. Namun sejauh ini perubahan dalam otot
jantung sebagai akibat dari keracunan logam Pb baru ditemukan pada anak-anak.
c. Efek logam timbal (Pb) Terhadap Sistem Saraf
Sistem saraf merupakan sistem yang paling
sensitif terhadap daya racun yang dibawa oleh logam Pb. Pengaruh dari keracunan
logam Pb dapat menimbulkan kerusakkan otak. Penyakit-penyakit sebagai akibat
dari keracunan logam Pb adalah epilepsi, halusinasi, kerusakan pada otak besar,
dan delirium (sejenis penyakit gula).
d. Efek logam timbal (Pb) Terhadap Sistem
Reproduksi
Daya racun yang dimiliki timbal juga
mempengaruhi sistem reproduksi. Timbal (Pb) dapat mengakibatkan kemandulan,
aborsi, dan kematian neonatal. Janin yang belum lahir peka terhadap toksisitas
logam Pb, janin yang berada dalam kandungan mengalami penurunan dalam ukuran,
hambatan pada pertumbuhan dalam rahim induk dan setelah dilahirkan (Palar,
2008).
9. Tingkat Pb Normal Dalam Tubuh
Untuk dapat melakukan evaluasi terhadap
keterpaparan oleh logam Pb, perlu diketahui batas normal dan konsntrasi
kandungan Pb dalam jaringan-jaringan dan cairan tubuh. Dari beberapa penelitian
yang telah dilakukan di Amerika Serikat, disimpulkan bahwa pemasukan Pb sehari-hari
kedalam tubuh dan digolongkan pada tingkat keterpaparan normal adalah dalam
kisaran 330 µg/hari, dengan tingkatan variasi antara 100 µg sampai dengan 200 µg. Penelitian terhadap sekelompok laki-laki yang tinggal
di Philadelphia, Amerika Serikat, menunjukan bahwa kadar Pb dalam urine mereka
berkisar antara 20 µg sampai 37 µg. Sedangkan kandungan Pb dalam darah orang
dewasa pada beberapa tempat (masih di Amerika Serikat), menunjukan adanya
perbedaan. Perbedaan kandungan Pb dalam darah tersebut lebih disebabkan oleh
faktor lingkungan dan geografis dimana orang-orang itu berada. Adapun ketentuan
Pb dalam tubuh dapat dilihat pada Tabel 1.3 dan Tabel 1.4:
Tabel 1.3
Empat Kategori Pb Dalam Darah Orang Dewasa
Kategori
|
µg Pb/100
ml Darah
|
Deskripsi
|
A (normal)
|
< 40
|
Tidak terkena paparan atau tingkat paparan normal
|
B (dapat di toleransi)
|
40 - 80
|
Pertambahan penyerapan dari keadaan terpapaar tetapi masih bisa di
toleransi
|
C (berlebih)
|
80 - 120
|
Kenaikan Penyerapan dari keterpaparan yang banyak dan mulai memperlihatkan
tanda-tanda keracunan
|
D (tingkat bahaya)
|
> 120
|
Penyerapan mencapai tingkat bahaya dengan tanda-tanda keracunan ringan
sampai berat
|
(Palar,2008)
Dari tabel tersebut dapat diketahui bahwa
bila manusia terpapar oleh pb dalam normal atau batasan toleransi, maka daya
racun yang dimiliki oleh Pb tetap akan bekerja dan bila jumlah yang diserap
telah mencapai ambang atau bahkan melebihi batas ambang maka individu yang
terpapar akan memperlihatkan gejala keracunan Pb yang lebih banyak menyerang bagian
tubuh.
Tabel 1.4
Batas Maksimum Pb dalam Darah dan Urine dibandingkan
dengan Biological Exposure Index (BEI)
Konsentrasi
|
Batas Maksimum
|
Ket.
|
|
Darah
|
50 µg Pb/100 ml Darah
|
Kepmenkes No.1406/MENKES/
SK/XI/2202
|
|
Urine
|
150 µg Pb/100 ml cretinine
|
||
Menurut Kepmenkes No.1406/MENKES/SK/XI/2202
Tentang Pemeriksaan Kadar Timah Hitam pada Spesimen Biomarker Manusia.
Tabel 1.5
Kadar Pb Dalam 9 Jaringan TubuhOrang-orang
Tidak Terpapar oleh Pb
Jaringan
|
Mg Pb/100 gr Jaringan Basah
|
Tulang
|
0,67 – 3,59
|
Hati
|
0,04 – 0,28
|
Paru-paru
|
0,03 – 0,09
|
Ginjal
|
0,05 – 0,16
|
Limpa
|
0,01 – 0,07
|
Jantung
|
0,04
|
Otak
|
0,01 – 0,09
|
Gigi
|
0,28 – 31,4
|
Rambut
|
0,007 – 1,17
|
Kenyataannya, umur dan jenis kelamin turut
mempengaruhi kandungan Pb dalam jaringan tubuh seseorang. Semakin tua umur
seseorang, akan semakin tinggi pula konsentrasi Pb yang terakumulasi pada
jaringan tubuhnya. Jenis jaringan juga turut mempengaruhi kadar Pb yang
terkandung. Bahwa dalam jaringan otak, kadar Pb yang ada tidak sama dengan
kadar Pb yang terdapat dalam paru-paru ataupun ginjal.
Pada laki-laki yang berumur antara 21-30
tahun akan ditemukan 0,055 mg/100 gr Pb dalam jaringan otak, sedangkan pada
laki-laki yang berumur antara 51-60 tahun, jumlah kandungan Pb dalam jaringan
otaknya adalah 0,064 mg/100gr. Sementara itu pada kaum wanita kadar Pb dalam
jaringan otaknya lebih kecil bila dibandingkan dengan laki-laki, yaitu sekitar
0,046 sampai 0,051 mg/100 gr. Dalam paru-paru wanita, kadar Pb yang ada
biasanya adalah sekitar 55% dari kadar Pb yang ada dalam paru-paru laki-laki.
Dalam ginjal, batas tertinggi kandungan Pb
adalah sekitar 0,075 mg/100 gr. Angka tersebut diperoleh berdasarkan hasil
otopsi terhadap individu dengan variasi umur antara 53 – 65 tahun. Otopsi
tersebut dilakukan di Veteran Administration
Hospital, Birmingham, Alabama ( Palar,2008).
10. Metode Spektrofotometri
Spektrofotometri merupakan suatu metoda analisa yang didasarkan pada
pengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan berwarna
pada panjang gelombamg spesifik dengan menggunakan monokromator prisma atau
kisi difraksi dengan detektor fototube.
Spektrofotometer adalah alat untuk mengukur transmitan atau absorban
suatu sampel sebagai fungsi panjang gelombang. Sedangkan pengukuran menggunakan
spektrofotometer ini, metoda yang digunakan sering disebut dengan
spektrofotometri (Basset,1994).
Spektrofotometri dapat dianggap sebagai perluasan suatu pemeriksaan
visual dengan studi yang lebih mendalam dari absorbsi energi.Absorbsi radiasi
oleh suatu sampel diukur pada berbagai panjang gelombangdan dialirkan oleh
suatu perkam untuk menghasilkan spektrum tertentu yang khas untuk komponen yang
berbeda (Khopkar, 2003).
Absorbsi sinar oleh larutan mengikuti hukum Lambert-Beer, yaitu :
A = log ( Io / It
) = a b c
Keterangan : Io = Intensitas sinar datang
It = Intensitas sinar yang diteruskan
a = Absorptivitas
b = Panjang sel/kuvet
c = konsentrasi (g/l)
A = Absorban
Spektrofotometri merupakan bagian dari fotometri dan dapat dibedakan dari
filter fotometri sebagai berikut :
a.
Daerah jangkauan spectrum
Filter fotometr hanya dapat digunakan
untuk mengukur serapan sinar tampak (400-750 nm). Sedangkan spektrofotometer
dapat mengukur serapan di daerah tampak, UV (200-380 nm) maupun IR (> 750
nm).
b.
Sumber sinar
Sesuai dengan daerah jangkauan
spektrumnya maka spektrofotometer menggunakan sumber sinar yang berbeda pada
masing-masing daerah (sinar tampak, UV, IR). Sedangkan sumber sinar filter
fotometer hanya untuk daerah tampak.
c.
Monokromator
Filter fotometere menggunakan filter sebagai
monokromator. Tetapi pada
spektro digunakan kisi atau prisma yang daya resolusinya lebih baik.
d.
Detektor
- Filter fotometer
menggunakan detektor fotosel
- Spektrofotometer menggunakan
tabung penggandaan foton atau fototube.
Gambar 1.6
PadaGambar 1.6menjelaskan komponen-komponen sebuah
Spektrofotometer. Komponen yang terdapat pada Spektrofotometer, yaitu:
Komponen utama Spektrofotometer :
a. Sumber
cahaya
Untuk daerah UV dan daerah tampak :
-
Lampu wolfram (lampu pijar) menghasilkan spektrum
kontiniu pada gelombang 320-2500 nm.
-
Lampu hidrogen atau deutrium (160-375 nm)
-
Lampu gas xenon (250-600 nm)
Untuk daerah IR ada tiga macam sumber sinar yang dapat
digunakan :
-
Lampu Nerst,dibuat dari campuran zirkonium oxida (38%)
Itrium oxida (38%) dan erbiumoxida (3%)
-
Lampu globar dibuat dari silisium Carbida (SiC).
-
Lampu Nkrom terdiri dari pita nikel krom dengan panjang
gelombang 0,4 – 20 nm
-
Spektrum radiasi garis UV atau tampak :
-
Lampu uap (lampu Natrium, Lampu Raksa)
-
Lampu katoda cekung/lampu katoda berongga
-
Lampu pembawa muatan dan elektroda (elektrodeless
dhischarge lamp)
-
Laser
b.
Pengatur Intensitas
Berfungsi untuk mengatur intensitas
sinar yang dihasilkan oleh sumber cahaya agar sinar yang masuk tetap konstan.
c.
Monokromator
Berfungsi untuk merubah sinar polikromatis
menjadi sinar monokromatis sesuai yang dibutuhkan oleh pengukuran
Macam-macam monokromator :
-
Prisma
-
kaca untuk daerah sinar tampak
-
kuarsa untuk daerah UV
-
Rock salt (kristal garam) untuk daerah IR
-
Kisi difraksi
Keuntungan menggunakan kisi :
-
Dispersi sinar merata
-
Dispersi lebih baik dengan ukuran pendispersi yang sama
-
Dapat digunakan dalam seluruh jangkauan spektrum
d.
Kuvet
Pada pengukuran di daerah sinar tampak
digunakan kuvet kaca dan daerah UV digunakan kuvet kuarsa serta kristal garam
untuk daerah IR.
e. Detektor
Fungsinya untuk merubah sinar menjadi
energi listrik yang sebanding dengan besaran yang dapat diukur.
Syarat-syarat ideal sebuah detektor :
-
Kepekan yang tinggi
-
Perbandingan isyarat atau signal dengan bising tinggi
-
Respon konstan pada berbagai panjang gelombang.
-
Waktu respon cepat dan signal minimum tanpa radiasi.
Macam-macam detektor : Detektor foto
(Photo detector), Photocell, Phototube, Hantaran foto, Dioda foto,dan Detektor
panas.
f. Penguat (amplifier)
Berfungsi
untuk memperbesar arus yang dihasilkan oleh detektor agar dapat dibaca oleh
indikator
E.
Standar Pemeriksaan Kadar Timah Hitam
1. Umum
Untuk menentukan pengambilan spesimen
biomarker hendaknya diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a. Untuk keperluan pemantauan/monitoring maka
disarankan melakukan pengambilan spesimen biomarker yang mudah cara
pengambilannya dan tidak berdampak psikologis terhadap pasien, misalnya rasa
takut atau stress.
b. Untuk keperluan penelitian maka hendaknya
diambil spesimen biomarker yang dapat mewakili/representatif, dan dilakukan
penghitungan besar sampelyang akan diambil (sampel size).
c. Menentukan spesimen biomarker yang mudah
pemeriksaannya sesuai dengan kemampuan petugas dan ketersediaan alat serta
mempertimbangkan keselamatan dan pengerjaannya (safety working).
2. Spesimen Darah
a. Pengambilan Spesimen Darah
1) Alat dan Bahan
a) Spuit/disposible syringe
b) Blood lancet
c) Karet pengikat lengan/torniquet
d) Kapas
e) Alkohol 70 %
2) Wadah Spesimen
a) Untuk darah vena, memerlukan wadah/botol
terbuat dari kaca, atau tetap didalam spuit.
b) Untuk darah kapiler tidak memerlukan
wadah.
c) Wadah dapat berukuran kecil atau ukuran
volume 5 ml.
3) Bahan Anti Koagulan
a) Ethylene
Diamine Tetra Acetat
(EDTA) yang digunakan dalam bentuk padat dengan perbandingan 1 : 1.
b) Heparin dapat digunakan dalam bentuk cair
atau padat.
4) Tempat pengambilan dan Volume Spesimen
Ada 2 tempat pengambilan spesimen darah, yaitu :
a) Ujung jari tangan /kaki (Darah Kapiler).
Digunakan apabila mengambil darah dalam jumlah sedikit atau tetesan (dipakai
untuk screaning test).
b) Lipatan lengan/siku (Darah Vena).
Digunakan apabila mengambil darah dalam jumlah agak banyak, misalnya : 1 s/d 10
ml.
5) Cara Pengambilan Spesimen
a) Darah Kapiler
Adapun cara mengambil spesimen sebagai berikut :
(1) Bersihkan tempat yang akan ditusuk memakai
kapas beralkhohol 70 % dan biarkan sampai kering.
(2) Peganglah bagian yang akan ditusuk supaya
tidak bergerak dan tekan sedikit supaya rasa nyeri berkurang.
(3) Tusuklah dengan cepat memakai lancet
steril, pada jari tusukkan dengan arah tegak lurus pada garis-garis sidik kulit
jari dan tidak boleh sejajar. Bila yang akan diambil spesimennya pada anak daun
telinga tusukan pinggirnya dan jangan sisinya sampai darah keluar.
b) Darah Vena
Cara pengambilan spesimen
sebagai berikut :
(1) Ikat lengan atas dengan menggunakan karet
pengikat/torniquest, kemudia tangan
dikepalkan.
(2) Tentukan vena yang akan ditusuk, kemudian
sterilkan dengan kapas beralkohol 70 %.
(3) Tusuk jarum spuit/disposable syringe
dengan posisi 45 derajat dengan lengan.
(4) Setelah darah terlihat masuk dalam spuit,
rubah posisi spuit menjadi 30 derajat dengan lengan, kemudian hisap darah
perlahan-lahan hingga volume yang diinginkan.
(5) Setelah volume cukup, buka karet pengikat
lengan kemudian tempelkan kapas beralkohol pada ujung jarum yang menempel
dikulit tarik jarum perlahan-lahan.
(6) Biarkan kapas beralkohol pada tempat
tusukan, kemudian lengan ditekuk/dilipat dan biarkan hingga darah tidak keluar.
(7) Pindahkan darah dari disposable syringe ke
wadah berisi anti koagulan yang disediakan, kemudian digoyang secara perlahan
agar bercampur.
(8) Jika spesimen ingin tetap dalam spuit,
setelah darah dihisap kemudian dengan spuit yang sama dihisap pengawet/anti
koagulan.
6) Identitas Spesimen
Spesimen diberi nomor dan kode, sedangkan identitas lengkap dapat dilihat
pada buku registrasi yang berisikan nomor, tanggal, nama responden, umur, jenis
kelamin, jenis pemeriksaan.
b. Pengiriman Spesimen Darah
1) Setelah spesimen terkumpul masing-masing
dalam wadah/botol kecil, kemudian dimasukan dalam wadah/tempat yang lebih besar
dengan diberi es sebagai pengawet sementara (cool box).
2) Wadah spesimen kecil diatur sedemikian
rupa sehingga tidak mudah terbalik atau tumpah.
3) Wadah diberi label yang berisi tentang
identitas yang meliputi : tanggal pengiriman, jenis dan jumlah sampel, jenis
pemeriksaan yang diminta, jenis pengawet, dan tanda tangan pengirim.
4) Sampel dikirim ke laboratorium Balai
Teknik Kesehatan Lingkungan, Balai Laboratorium Kesehatan atau laboratorium
lainnya.
5) Transportasi pengiriman harus secepat
mungkin sampai ke laboratorium, pengiriman spesimen maksimum 3 hari.
c. Pemeriksaan Spesimen Darah
Ada beberapa metoda yang dapat digunakan untuk
memeriksa kadar timah hitam dalam darah, antara lain metoda Dithizone dan
metoda Spektrofotometrik Serapan Atom. Pemilihan metoda pemeriksaan disesuaikan
dengan kemampuan sumber daya yang tersedia, baik tenaga, bahan pemeriksaan
ataupun peralatan.
a. Analisa Hasil
Kadar Timah hitam dibandingkan dengan Biological
Exposure Index (BEI) atau nilai index untuk pajanan biologi. Menurut WHO
(tahun 1977) nilai pada orang dewasa normal adalah 10 s/d 25 µg per desiliter.
1. Spesimen Urine
a. Pengambilan Spesimen
1) Wadah Spesimen
a) Wadah spesimen urine harus bersih dan
kering.
b) Dapat terbuat dari plastik atau botol
gelas.
c) Mulut wadah lebar dan dapat ditutup rapat.
d) Wadah berwarna terang.
2) Bahan Pengawet
a) Formalin 37 %.
b) Ethylene Diamine Tetra Acetat (EDTA).
3) Cara Pengambilan Spesimen
a) Urine ditampung selama 24 jam.
b) Urine yang telah ditampung diambil
sebanyak 50 – 100 ml, kemudian tambahkan dengan 2 ml formalin 27 % atau 100 mg
EDTA, kemudia kocok hingga homogen.
4) Identitas Spesimen
Spesimen diberi nomor dan kode, sedangkan identitas lengkap dapat dilihat
pada buku registrasi yang berisikan nomor, tanggal, nama responden, umur, jenis
kelamin, jenis pemeriksaan.
b. Pengiriman Spesimen
a) Setelah spesimen urine terkumpul
masing-masing dalam wadah/botol kecil, kemudian dimasukan dalam wadah/tempat
yang lebih besar dengan diberi es sebagaui pengawet sementara (cool box).
b) Wadah spesimen kecil diatur sedemikian
rupa sehingga tidak mudah terbalik atau tumpah.
c) Pengiriman harus secepat mungkin sampai ke
laboratorium (tidak lebih dari 3 hari).
c. Pemeriksaan Spesimen
Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk memeriksa kadar timah hitam
dalam urine, antara lain metode Ditizone dan metode Spektofotometrik Serapan
Atom.
Pemilihan metode pemeriksaan disesuaikan dengan kemampuan sumber daya yang
tersedia, baik tenaga, bahan pemeriksaan ataupun peralatan.
d. Analisa Hasil
Kadar timah hitam dibandingkan dengan
Biological Exposure Index (BEI) atau nilai index untuk pajanan biologi.
Kadar timah hitam dalam darah 50µg/100ml. Kadar timah hitam dalam urine
150µg/ml creatinine. Zinc protoporphynin
dalam darah (setelah 1 bulan terekspos) 250 µg/100 ml erythrocytes atau 100 µg/100 ml darah.
2. Spesimen Rambut
a. Pengambilan Spesimen
1)
Wadah
Spesimen
a) Wadah spesimen rambut harus bersih dan
kering.
b) Wadah spesimen merupakan kantong plastik
yang dapat tertutup rapat.
2) Cara Pengambilan Sampel
a) Spesimen diambil dikepala bagian belakang.
b) Ikat rambut sebesar batang korek api
dengan menggunakan benang.
c) Potong rambut pada bagian pangkalnya.
d) Spesimen disimpan dalam kantong plastik
tertutup rapat.
3) Identitas Spesimen
Spesimen diberi nomor dan kode, sedangkan identitas lengkap dapat dilihat
pada buku registrasi yang berisikan nomor, tanggal, nama responden, umur, jenis
kelamin, jenis pemeriksaan.
b. Pengiriman Spesimen
1) Setelah spesimen rambut terkumpul
masing-masing dalam kantong plastik tertutup, kemudian dimasukan dalam
wadah/tempat yang lebih besar.
2) Pengiriman harus secepat mungkin sampai ke
laboratorium.
c. Pemeriksaan Spesimen
Ada beberapa metoda yang dapat digunakan untuk memeriksa kadar timah hitam
dalam rambut, antara lain metoda Dithizone
dan metoda Spektrofotometrik Serapan Atom.
Pemilihan metoda pemeriksaan disesuaikan dengan kemampuan sumber daya yang
tersedia, baik tenaga, bahan pemeriksaan ataupun peralatan.
d. Analisa Hasil
Kadar timah hitam dibandingkan dengan Biological
Exposure Index (BEI) atau nilai index untuk pajanan biologi berdasarkan
pada KEPMENKES Nomor 1406/MENKES/SK/XI/2002 Tentang Standar Pemeriksaan Kadar
Timah Hitam Pada Spesimen Biomarker Manusia.
A.
Kerangka Teori
Berdasarkan
uraian tinjauan di atas maka kerangka teoritis sebagai
berikut :
|
Sumber Polutan
Asap Kendaraan Bermotor
|
|
Faktor
Lingkungan
Polusi Timbal
Polusi Udara
|
|
Inhalasi
|
|
Pencernaan
(makanan dan minuman)
|
|
Kulit
|
|
Faktor
Pekerjaan
|
|
Masa Kerja
|
|
Keracunan Timbal
|
Sumber :Palar (2008), Oktaria
(2009).
B.
Kerangka Konsep
|
Variabel Bebas
|
|
Petugas Pengisian Bahan Bakar Minyak (BBM)
|
|
Variabel Terikat
Jumlah Kadar Timbal (Pb) dalam urine
|
|
Ø Masa Kerja
Ø Lama Kerja
Ø Berat Badan
Ø Umur
|
|
Karakteristik Responden
|
C.
Variabel Penelitian
Variabel yang diteliti dalam penelitian ini adalah
:
1. Variabel Bebas
Sebagai variabel bebas adalah petugas
pengecor Bahan Bakar Minyak (BBM) pada Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).
Karakteristik responden meliputi masa kerja, lama kerja, berat badan dan umur.
2. Variabel Terikat
Sebagai variabel terikat adalah jumlah
kadar timbal (Pb) yang terkandung dalam urine petugas Stasiun Pengisian Bahan
Bakar Umum (SPBU).
D.
Definisi Operasional
NO
|
Variabel
|
Definisi
|
Cara Ukur
|
Hasil Ukur
|
Skala
|
1
|
Variabel bebas : Pekerja
Pengisian Bahan Bakar Minyak (BBM)
Karakteristik Responden
-
Masa kerja
-
Lama Kerja
-
Berat badan
|
Pekerja yang bertugas
mengisi BBM di SPBU kabupaten Pringsewu
Waktu kerja
dalam satu tahun
Lama waktu
kontak responden dengan pajanan ditempat bekerja
Berat badan responden
pada saat dilakukan penelitian
|
Wawancara
Wawancara
Wawancara
Penimbangan
|
Data Umum :
nama, umur, jenis kelamin
Tahun
Jam/Hari
kg
|
Ordinal
Rasio
Rasio
Rasio
|
2
|
Variabel Terikat
Kadar logam timbal (Pb) dalam urine
|
Kadar timbal (Pb) dalam
urine petugas SPBU kabupaten Pringsewu
|
Pemeriksaan kadar timbal (Pb) diukur dengan menggunakan metode
spetrofotometri
|
Jumlah
kadar timbal (Pb) yang terkandung dalam
urine
|
Rasio
|
BAB III
METODE PENELITIAN
A.
Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini bersifat deskriptif analitik dimana
penelitian ini menggambarkan dan menganalisis kadar logam timbal (Pb) dalam
urine petugas Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kabupaten Pringsewu.
B.
Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian adalah survei crosssectional yaitu penelitian dimana
variabel-variabel yang termasuk faktor resiko dan variabel-variabel yang
termasuk efek diobservasi sekaligus pada waktu yang bersamaan (Notoatmojo,2010).
1. Variabel Bebas penelitian ini adalah adanya logam
timbal dalam urine petugas Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di
Kabupaten Pringsewu. Karakteristik responden meliputi masa kerja, lama kerja,
berat badan dan umur.
2. Variabel Terikat pada penelitian ini adalah jumlah
kadar timbal dalam urine petugas Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di
Kabupaten Pringsewu.
C.
Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi sampel untuk analisis logam timbal (Pb) adalah urine petugas
Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum sebanyak 18
orang yang bekerja sudah lebih dari 5 tahun.
2. Sampel
Sampel yang akan diambil dalam penelitian ini adalah urine petugas
pengisian bahan bakar yang bekerja sudah lebih dari 5 tahun, karena keracunan
logam timbal (Pb) bersifat kronis dapat terlihat dalam jangka waktu menahun.
Sampel diambil dari petugas pengisian bahan bakar yang sudah bekerja lebih dari
5 tahun. Banyaknya jumlah total keseluruhan sampel yang diambil adalah sebanyak
18 sampel.
D.
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di
Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Kabupaten Pringsewu untuk pengambilan
sampel urine petugas SPBU tersebut. Sedangkan untuk pemeriksaan sampel dalam
penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Terpadu Politeknik Kesehatan Tanjungkarang
pada bulan Agustus 2015.
E.
Pengumpulan Data
1. Jenis data yang dikumpulkan
a. Data Primer
Data primer yang mencakup variabel-variabel yang diteliti diperoleh pada
sampel menggunakan instrumen kuesioner sebagai alat untuk wawancara yang
terpilih sebagai subyek penelitian, dan pengukuran kadar Pb dalam urine petugas
Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di kabupaten Pringsewu dilakukan 1
(satu) kali pemeriksaan.
b. Data Sekunder
Data sekunder diperoleh dari kantor pelayanan pada setiap SPBU yang ada di
kabupaten Pringsewu, dengan cara mengutip laporan yang mencakup tahun
berdirinya dan jumlah karyawan SPBU yang mendukung penelitian.
2. Alat pengumpul data
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
a. Kuesioner adalah alat untuk mengumpulkan
data yang dilakukan dengan cara mengajukan serangkaian pertanyaan pada
responden guna mendapatkan informasi secara langsung. Dalam hal ini peneliti
melakukan wawancara secara langsung dengan petugas di Stasiun Pengisian Bahan
Bakar Umum (SPBU) di Kabupaten Pringsewu.
b. Pemeriksaan kadar timbal (Pb) dalam urine
dengan metode Spektofotometri.
Prosedur pengambilan, pengiriman, pemeriksaan dan analisa hasil :
1) Pengambilan Spesimen
a) Wadah Spesimen
(1) Wadah spesimen urine harus bersih dan
kering
(2) Dapat terbuat dari plastik atau botol
gelas
(3) Mulut wadah lebar dan dapat ditutup rapat
(4) Wadah berwarna terang
b) Bahan Pengawet
(1) Formalin 37 %
(2) Ethylene
Diamine Tetra Acetat
(EDTA)
c) Cara Pengambilan Spesimen
(1) Urine ditampung selama 24 jam
(2) Urine yang telah ditampung diambil
sebanyak 50 – 100 ml, kemudian tambahkan dengan 2 ml formalin 27 % atau 100 mg
EDTA, kemudia kocok hingga homogen.
d) Identitas Spesimen
Spesimen diberi nomor dan kode, sedangkan identitas lengkap dapat dilihat
pada buku registrasi yang berisikan nomor, tanggal, nama responden, umur, jenis
kelamin, jenis pemeriksaan.
2) Pengiriman Spesimen
a) Setelah spesimen urine terkumpul
masing-masing dalam wadah/botol kecil, kemudian dimasukan dalam wadah/tempat
yang lebih besar dengan diberi es sebagaui pengawet sementara (cool box).
b) Wadah spesimen kecil diatur sedemikian
rupa sehingga tidak mudah terbalik atau tumpah.
c) Pengiriman harus secepat mungkin sampai ke
laboratorium (tidak lebih dari 3 hari).
3) Pemeriksaan Spesimen
Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk memeriksa kadar timah hitam
dalam urine, antara lain metode Dithizone,
metode Spektrofotometri dan metode Spektofotometrik Serapan Atom.
Pemilihan metode pemeriksaan disesuaikan dengan kemampuan sumber daya yang
tersedia, baik tenaga, bahan pemeriksaan ataupun peralatan.
4) Analisa Hasil
Kadar timah hitam dibandingkan dengan Biological
Exposure Index (BEI) atau nilai index untuk pajanan biologi. Kadar timah
hitam dalam darah 50µg/100ml. Kadar timah hitam dalam urine 150µg/ml
creatinine. Zinc protoporphynin dalam
darah (setelah 1 bulan terekspos) 250 µg/100 ml erythrocytes atau 100 µg/100 ml darah.
F.
Pengolahan dan Analisis Data
1. Pengolahan Data
Data yang diperoleh dari observasi kemudian
diolah dengan tahapan sebagai berikut :
a)
Coding yaitu, pemberian kode pada sampel urine
dengan kode A1 – A6 untuk SPBU Sukoharjo, B1 - B7 untuk SPBU Pringsewu Barat,
dan C1 – C5 untuk SPBU Tambah Rejo, hal ini dilakukan agar tidak terjadi
kekeliruan dalam pengolahannya.
b)
Editing yaitu, pengoreksian kembali data-data yang
diperoleh seperti nama responden, umur, lama kerja, dan berat badan sehingga
data yang didapat adalah data yang sebenarnya.
c)
Tabulating yaitu, memasukan data kedalam tabel seperti
nama responden, umur, lama kerja, dan berat badan untuk kemudian diberi
penjalasan (narasi).
d)
Cleaning yaitu, melakukan pembersihan dan pengecekan
kembali data-data yang diperoleh seperti nama responden, umur, jenis kelamin,
masa kerja, lama kerja dan berat badan .Kegiatan ini perlu dilakukan untuk
mengetahui apakah ada kesalahan ketika memasukan data.
2. Analisis Data
Data yang diperoleh dari hasil observasi melalui pemeriksaan kadar timbal
(Pb) dalam urine petugas Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) se-kabupaten
Pringsewu.
Kemudian hasil pemeriksaan kadar
timbal (Pb) dalam urine petugas SPBU dibandingkan dengan Kepmenkes RI
No.1406/MENKES/SK/XI/2002 tentang Standar Pemeriksaan Kadar Timah Hitam pada Spesimen Biomarker Manusia.